LDII: Generasi Muda Jadi Tumpuan Bangsa, Pahlawan Masa Depan

Ilustrasi peringatan Dirgahayu RI sebagai wujud menghormati jasa-jasa pahlawan pejuang kemerdekaan – Foto : Remaja LDII Kabupaten Jayapura/2019 – (Dokumentasi diambill sebelum masa pandemi).

Jakarta (10/11). Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, menjadi sejarah perjuangan bangsa. Hanya dalam sekitar 4 bulan setelah kelahirannya, bangsa Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekannya, harus menghadapi Inggris kampiun Perang Dunia II dan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.

“Heroisme rakyat Surabaya dicatat dengan harum dalam perjalanan sejarah bangsa, bagaimana bangsa yang baru lahir mempertahankan kemerdekaannya,” ujar Guru Besar Sejarah Universitas Diponegoro Singgih Tri Sulistiyono.

Singgih yang juga Ketua DPP LDII tersebut, menyebut sikap heroik dari rakyat Surabaya merupakan wujud kecintaan terhadap tanah air. Sekaligus ekspresi dari tekanan akibat politik imperialisme yang meminggirkan bangsa Indonesia selama ratusan tahun.

Perlawanan mereka mengakibatkan serangan Inggris yang luar biasa tersebut, berlangsung selama tiga minggu yang mengakibatkan kerusakan besar terhadap kota Surabaya. Efeknya, luar biasa, mata dunia tertuju kepada negeri muda yang melawan dengan gigih kolonialisme.

“Peristiwa itu dikenang karena keberanian, kegigihan, dan spontanitas rakyat Surabaya yang mengubah sejarah Indonesia. Heroiknya rakyat Surabaya yang kemudian hari disebut sebagai bondo nekat atau bonek,” kata Singgih.

Peristiwa yang telah terjadi puluhan tahun lalu itu, seharusnya menjadi semangat dalam menghadapi tantangan globalisasi, “Kolonialisme dan imperialisme juga bersalin rupa, ini membutuh kecerdasan, kegigihan, dan adaptasi yang kuat. Sehingga bangsa ini tidak menjadi bangsa kelas tiga, hanya sebagai pasar dan bergantung terhadap bantuan negara lain,” ujarnya.

Menciptakan ketergantungan secara sosial, budaya, politik, dan ekonomi merupakan bentuk-bentuk hegemoni dan dominasi atau kolonialisme baru. Hal ini, bisa diantisipasi dengan kemandirian bangsa, “Bangsa Indonesia harus bisa mandiri, sehingga bisa berperan dalam geopolitik dan geoekonomi secara sejajar dengan negara-negara lain,” imbuh Singgih.

Indonesia, dengan kemampuannya, bukan hanya menjadi destinasi investasi yang menjajikan namun juga mampu berinvestasi ke mancanegara, “Bangsa Indonesia tidak anti investasi asing, namun jangan sampai investasi itu mengganggu kedaulatan bangsa atau mendikte pemerintah,” ungkapnya.

Untuk itu, semua pihak harus bekerja keras dengan nilai-nilai luhur bangsa agar bangsa Indonesia menjadi bangsa maju, dan mampu mewujudkan pembukaan UUD 1945, “Apa yang dilakukan bangsa Indonesia hari ini, sangat menentukan perjalanan bangsa pada masa depan,” paparnya.

Senada dengan Singgih Tri Sulistiyono, Sekretaris Umum DPP LDII Dody T. Wijaya mengatakan generasi muda terutama generasi Z, menjadi tumpuan bangsa. Mereka yang lahir sekitar tahun 1997 hingga tahun 2000-an, menurut Dody adalah generasi yang lekat dengan teknologi sehingga terkadang disebut sebagai i-gen.

“Mereka ambisius, mahir tentang hal digital, percaya diri, mempertanyakan otoritas, banyak menggunakan bahasa gaul, lebih sering menghabiskan waktu sendiri, dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Generasi Z juga rentan terkena depresi juga kecemasan. Mereka inilah yang harus dibimbing menjemput Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.

Mereka sebagai anak teknologi dengan pemikiran yang global, bahkan nasionalisme mereka menembus batas negara dan ideologi, menurut Dody harus mendapatkan nilai-nilai luhur bangsa, seperti gotong royong, “Mereka juga harus memiliki karakter alim-faqih, berakhlak mulia, dan memiliki sikap mandiri,” imbuhnya.

Mereka akan jadi pahlawan masa depan, bila memiliki semangat rela berkorban dan berjuang untuk kepentingan orang banyak, tanpa membedakan suku, agama, dan ras, menurut Dody.

Dengan generasi inilah, bonus demografi pada 2045 menjadi milik bangsa Indonesia. Sehingga Indonesia menjadi negara maju, namun dengan moralitas yang mulia dalam rangka membangun masyarakat madani yang makmur, sejahtera, adil, toleran, saling menghargai, tolong-menolong, dan semangat kebersamaan yang tinggi. Merekalah pahlawan-pahlawan masa depan.

Ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura, Imam Subekti menambahkan, “mari kita melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan sesuai dengan bidang, profesi, minat, dan bakatnya masing-masing sehiingga kedepan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tangguh, berbudi luhur, dan profesional religius. (kim/*)

Tetap Setia Jaga NKRI, LDII Apresiasi TNI

Keterangan foto: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo meninjau lokasi vaksinasi di Padepokan Pencak Silat Persinas ASAD, Pondok Minhaajurrosyidin, Jakarta Timur pada Selasa (13/7). Kedatangan mereka disambut Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso. (Dok. LINES)

Jakarta (5/10). Sejak masih bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR) lalu berganti nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, TNI terus menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). TNI juga tak pernah terlibat dalam kudeta militer, bagaimanapun kondisi politik nasional.

“Kami warga LDII mengapresiasi TNI, dalam keadaan apapun, sesulit apapun, tetap setia terhadap NKRI. Bahkan saat kondisi negara sedang rentan pada 1998, TNI tak tergoda untuk mengambil alih kekuasaan,” ujar Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso.

Bahkan, menurut Chriswanto, TNI terus bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan mengedukasi masyarakat mengenai nasionalisme dan cinta tanah air, “Kami bekerja sama dengan beberapa Kodam dan Kopassus dalam pembentukan karakter generasi muda, dalam bentuk pelatihan wawasan kebangsaan dan bela negara,” ujar Chriswanto.

Dengan edukasi dan gemblengan dari TNI, DPP LDII ingin menanamkan cinta tanah air, agar generasi muda kian sadar sejarah bangsanya dan untuk tujuan apa negeri ini didirikan, “Kami memiliki program membangun generasi profesional religius yakni generasi alim-faqih, berakhlak mulia, dan mandiri. Dengan bekerja sama dengan TNI, membentuk akhlak yang mulia dan mandiri makin mudah diwujudkan,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi, meskipun Dwifungsi ABRI sudah tak ada lagi sejak era Reformasi, namun TNI terus berada di dekat masyarakat, “Saya menyaksikan TNI sangat peduli dengan kondisi sosial masyarakat melalui Bintara Pembina Desa/Samudera/Angkasa atau Babinsa, mereka terus memantau kondisi masyarakat,” kata Chriswanto.

Bentuk kepedulian itu, terutama saat pandemi Covid-19, TNI aktif membantu dalam bakti sosial hingga menyalurkan vaksin. Selain itu, Babinsa juga terus mendata kebutuhan masyarakat dan memantau berbagai kegiatan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat pada umumnya.

“Dengan usianya yang mencapai 76 tahun, hampir sama dengan usia republik ini, kami berharap TNI semakin profesional dan sejahtera, sehingga dapat mengawal negeri ini dengan baik,” ujarnya. Dengan TNI yang profesional, cita-cita pendiri bangsa agar bangsa Indonesia berperan dalam perdamaian dunia bisa terlaksana.

“Di berbagai wilayah konflik, TNI yang membantu PBB menjadi ujung tombak tekad bangsa Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Profesonalitas TNI harus diapresiasi,” imbuhnya.

Jasa TNI menurut Chriswanto sangat besar dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara. Mereka berjuang tanpa pamrih di menghadapi separatisme. Meskipun dalam bertugas, TNI kerap dituduh melanggar HAM, namun tetap bekerja keras agar negara tidak berpecah belah, “Tekad yang kuat dan niat yang tulus itu, harus mendapat apresiasi setinggi-tingginya,” pungkas Chriswanto Santoso.

Imam Subekti, ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura memberikan apresiasi kepada TNI atas pengabdian yang luar biasa dalam mempertahankan kedaulatan serta berperan aktif dalam kemanusiaan, bersatu, berjuang, kita pasti menang. (dew)

Bupati Nabire : LDII Solid dan Patuh, Disampaikan Saat Pengukuhan Pengurus LDII Nabire

NABIRE, www.ldiijayapura.com – Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Nabire masa bakti 2020-2025 berjalan dengan hidmat dengan bertemakan “Penguatan SDM Profesional, Religius untuk ketahanan pangan dan kemandirian bangsa menuju Kabupaten Nabire yang berkeadilan, sejahtera, dan mandiri”, pada sabtu (25/09/2021).

Acara pengukuhan tersebut berlangsung di Gedung Islamic center Komplek Masjid Agung Al-Falah Jl. Merdeka Nabire-Papua dengan tetap menerapkan Protokol Kesehatan Covid-19 melalui 3M “Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga Jarak”.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Papua H. Sumardi, S.T, dan Sekretaris DPW LDII Provinsi Papua Ahmad Saefudin, A.Md, serta pejabat FORKOPIMDA Kabupaten Nabire lainnya seperti Kapolres Nabire AKBP. I Ketut Suarnaya, S.I.K.,S.H., Kepala Kejaksaan Negeri Nabire Muhammad Rizal, S.H.,M.H, Dandim 1705 Nabire yang diwakili oleh Danramil Nabire, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nabire yang diwakili oleh Kepala Bagian Tata Usaha Robert Wopairi, S.Th, Pimpinan Ormas Islam se- Kabupaten Nabire, tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh wanita, dan tamu undangan lainnya yang berjumlah sekitar 250 orang.

Lewat momen itu, Sekretaris DPW LDII Provinsi Papua Ahmad Saefudin, A.Md, membacakan SK Kepengurusan DPD LDII Kabupaten Nabire 2020-2025. Sedangkan Pelantikan dan Pengukuhan dilakukan oleh Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Papua yang ditandai dengan penyerahan Pataka Bendera LDII dari Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Papua kepada Ketua DPD LDII Kabupaten Nabire Periode 2020-2025 H. Nuryadi, S.Pd.,M.MPd.

Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Papua dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pelantikan & Pengukuhan Pengurus DPD LDII Kabupaten Nabire merupakan pengejawantahan dari Program Hasil Munas IX DPP LDII Periode 2016-2021 dimana salah satu keputusan Munas IX 2021, yang di buka oleh Presiden RI Ir. H.Joko Widodo nenetapkan Ketua Umum DPP LDII terpilih, Ir. KH. Chriswanto Santoso, M.Sc pada kepengurusan DPP LDII Masa bhakti 2021-2026.

Melalui munas IX tersebut juga mengusung 8 Klaster Program yang diusulkan DPP LDII kepada Pemerintah Indonesia, dan Alhamdulillah ke- 8 Program tersebut secara pilot project telah dilaksanakan oleh warga LDII di seluruh tanah air.
8 klaster program dimaksud adalah :

  1. Kebangsaan (mewujudkan SDM Profesional Religius Berwawasan Kebangsaan);
  2. Keagamaan yakni penguatan peranan di bidang keagamaan dan dakwah untuk menyiapkan SDM Profesional religius menuju Indonesia Maju);
  3. Ekonomi (peningkatan kapasitas SDM profesional religius untuk pemulihan ekonomi menuju Indonesia Maju);
  4. Pendidikan (pengembangan SDM profesional religius utk Indonesia Maju);
  5. Pangan dan Lingkungan Hidup (ketersediaan pangan berkelanjutan dan penjagaan kelestarian fungsi lingkungan menuju Indonesia Maju);
  6. Kesehatan (mendorong penggunaan obat tradisional);
  7. Teknologi digital; dan
  8. Energi baru terbarukan.

Sambutan Bupati Nabire yang diwakili oleh Asisten I Setda Kabupaten Nabire La Halim, S.Sos menyampaikan bahwa LDII merupakan salah satu Ormas Islam di Negara Indonesia yang organisasinya berjenjang, struktur kepengurusannya ada di tingkat pusat sampai ke daerah. Selama ini koordinasi kepengurusan LDII Kabupaten Nabire dengan Pemerintah sangat baik. Ini menunjukan kepengurusan Ormas Islam ini solid dan patuh terhadap peraturan Pemerintah.

Lebih lanjut La Halim menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pengurus LDII Nabire periode sebelumnya, semoga amal bakti selama bertugas menjadi pahala disisi Allah SWT, dan untuk pengurus DPD LDII Kabupaten Nabire periode 2020-2025 yg baru dilantik, La Halim memberi ucapan selamat bekerja dan berkarya untuk kemaslahatan umat terutama membentengi umat islam dari perkembangan teknologi yg negative di Kabupaten Nabire.

“Keberadaan LDII di Kabupaten Nabire agar dapat selalu membantu Pemerintah Kabupaten untuk menjaga umat karena Nabire merupakan miniatur kecil dari Indonesia, mari kita jaga toleransi umat beragama agar tetap terjaga keamanan dan kedamaian dan saya harap LDII Kabupaten Nabire ini tetap solid, selalu bersinergi dengan Pemerintah dan semua ormas,” kata La Halim.

“Kita tau bersama pilkada Nabire 2020 saat ini masih dalam proses di MK. Hasil kesepakatan bersama Forkopimda Nabire bersama Tokoh Masyarakan, tokoh adat, dan semua stakeholder saat rapat di Aula Sekretariat Daerah beberapa waktu lalu sepakat untuk menjaga keamanan Nabire. Mari kita mendukung hasil putusan MK dan juga mendukung program yang dibangun oleh Pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat Nabire, ” ungkap La Halim.


La Halim juga melihat program 8 klaster LDII yg dipaparkan oleh Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Papua selaras dengan Program Pemerintah Kabupaten Nabire menuju Nabire Mandiri ,aman, sejahtera, dan damai.

Sementara itu Kepala Kejaksaan Negeri Nabire Muhammad Rizal, S.H.,M.H menyampaikan ucapan selamat kepada para pengurus DPD LDII Kabupaten Nabire yang baru dan semoga bisa berkontribusi untuk Nabire. Ia menilai LDII adalah ormas keagamaan yang profesional dan sangat dekat dengan pemerintah.

Kegiatan Pengukuhan diakhiri dengan penandatanganan deklarasi damai LDII bersama Forkopimda dan stakeholder terkait menolak Terorisme dan Faham Radikalisme di Kabupaten Nabire, selanjutnya ditutup dengan doa oleh Ketua Baznas Kabupaten Nabire H. Soleman Letsoin, BA pukul 11.30 WIT. (Dayat_nbx).

DPP LDII: HUT Kemerdekaan RI Mengingatkan Tanpa Pancasila Kita Rapuh dan Runtuh

Ketua Umum DPP LDII, Ir. KH. Chriswanto Santoso, M.Sc

Jakarta (16/8). Setiap 17 Agustus kesadaran kolektif bangsa Indonesia diingatkan kembali mengenai arti kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukan hanya diperingati dengan indahnya kembang api atau acara yang megah, tapi mengingatkan kembali tujuan berdirinya bangsa ini.

“Para pendiri bangsa telah menetapkan tujuan berdirinya bangsa dan negara ini dengan sangat elok, dalam pembukaan UUD 1945. Itulah jalan di kaki menetap untuk membangun Indonesia,” ujar Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso.

Siapapun eksekutif pelaksana pemerintahan, pembukaan UUD 1945 menjadi acuannya. Menurutnya, kondisi dunia yang sedang prihatin akibat pandemi Covid-19 memberikan hikmah agar rakyat Indonesia saling bergotong royong, menyedekahkan harta dan tenaga yang dimiliki dalam penanganan pandemi Covid-19.

Selain itu, pandemi Covid-19 juga memunculkan kesadaran pentingnya urusan kebangsaaan, “Musuh kebangsaan itu muncul untuk merusak persatuan dan kesatuan, berupa hoaks yang bertebaran di media sosial,” ungkapnya. Hal itu, bisa merusak pengikat kita sebagai bangsa yang terdiri dari beragam ras, suku, dan agama.

“Harus selalu kita ingat bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang satu, bahwa Indonesia dibentuk dan lahir dari perbedaan yang ada,” ujarnya. Sehingga, menyatukan perbedaan menjadi sesuatu yang memiliki nilai tertinggi saat Indonesia telah merdeka dan wawasan kebangsaan harus selalu diberikan.

Menghadapi pandemi, Chriswanto menegaskan bahwa tugas sebagai warga negara bukanlah mengeluh terhadap apa yang diberikan Allah, namun bagaimana berikhtiar, mengatasi bersama-sama Covid-19 dan kembali Indonesia membangun perekonomiannya menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini juga sesuai dengan tema Kemerdekaan Indonesia, ‘Indonesia Tumbuh, Indonesia Tangguh’.

Bagi LDII, jika Indonesia guncang, maka umat Islam tidak bisa melaksanakan ibadah dan berdakwah dengan baik. “Mari kita mencintai Indonesia, membangun Indonesia, dan betul-betul kita ciptakan umat ini menjadi bangsa yang tangguh menghadapi cobaan ini,” kata Chriswanto.

Senada dengan Chriswanto, Kasubdis Lingkim Direktorat Bela Negara Ditjen Potensi Pertahanan Umum Kemhan Kolonel Adm Amiruddin Laupe, menegaskan pandemi Covid-19 seharusnya menjadi penguat nilai-nilai gotong royong. Menurutnya nilai gotong royong dari para pendahulu bangsa Indonesia, yang perlu ditanamkan hingga kini.

Amiruddin Laupe mengatakan, gotong royong terkandung dalam empat konsensus kenegaraan, yakni Bhinneka Tunggal Ika. Lebih jauh lagi, gotong royong dalam Bhinneka Tunggal Ika itu dapat mengatasi ancaman aktual seperti terorisme dan radikalisme atau ancaman potensial seperti konflik terbuka.

“Toleransi dan gotong royong dalam Bhinneka Tunggal Ika adalah modal utama mempersatukan bangsa,” kata Amiruddin. Agar dapat melaksanakan praktik Bhinneka Tunggal Ika, bangsa Indonesia harus memahami arti penting dari Pancasila, yang dibumikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ia berpendapat, untuk mengaktualisasikan Pancasila, yang pertama adalah setiap warga negara dan kelompok memiliki kesadaran untuk bela negara, yang tercantum dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 3, “Hal itu berlaku juga untuk ormas-ormas serta parpol yang paling mewakili masyarakat,” paparnya.

Sementara itu Ketua DPP LDII yang juga Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, Singgih Tri Sulistiyono mengatakan gotong-royong yang terkandung dalam Pancasila adalah pertanda bangsa yang beradab, “Bangsa Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang beradab jika tidak memiliki kemanusiaan, kebersamaan, dan tidak memiliki kesadaran untuk bergotong royong. Lebih lanjut ia mengatakan Indonesia rapuh, jika tanpa Pancasila.

Singgih juga menjelaskan posisi strategis sila pertama ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ sebagai pondasi, bukan sebagai ‘bingkai’ dalam konstruksi keindonesiaan. Menurutnya, jika sila Ketuhanan Yang Maha Esa dijadikan bingkai atau wadah yang akan melahirkan agama tertentu, maka menurutnya ini akan menjadi bibit konflik yang berkepanjangan.

“Karena negara kita adalah negara yang plural, termasuk dalam hal agama dan kepercayaan. Maka agama dijadikan sebagai pondasi, bukan sebagai wadah,” kata Singgih. Sementara, pembingkai konstruksi keindonesiaan dalam Pancasila adalah sila ‘Persatuan Indonesia’ atau sila ketiga.

Sehingga rumusannya, apapun agama yang dipeluk yang sesuai dengan sila pertama, bermacam aktualisasi kemanusiaan yang dilakukan berdasarkan sila kedua, berbagai bentuk demokrasi yang dijalankan sesuai sila keempat, serta model keadilan yang dibayangkan seperti apa yang dimaksud sila kelima, poinnya adalah harus dalam bingkai Persatuan Indonesia, “Jadi tetap dalam bingkai NKRI (sila yang ketiga),” kata Singgih.

Jika sila pertama dijadikan sebagai pondasi, sila ketiga sebagai bingkai, sila kelima sebagai tujuan, maka sila kedua (kemanusiaan) dan sila keempat (demokrasi) dijadikan sebagai semangat serta cara untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara.

Singgih membuat kristalisasi pandangan LDII terhadap Pancasila, yang menegaskan bahwa bangsa Indonesia tanpa Pancasila akan rapuh. Pertama, Indonesia akan rapuh jika tidak punya pondasi religiusitas yang kuat, sebagaimana yang termaktub dalam sila pertama Pancasila, yakni ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’.

Kedua, bangsa Indonesia akan tercerai berai jika tidak ada bingkai yang jelas, seperti yang dirumuskan dalam sila ketiga, yang berbunyi ‘Persatuan Indonesia’. Ketiga, bangsa Indonesia akan kehilangan arah, jika tidak mempunyai tujuan yang jelas, seperti yang dirumuskan di sila kelima, yang bunyinya ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,’.

Ada yang Mulai Meninggalkan Pancasila
Sependapat dengan Singgih, Direktur Bina Ideologi, Karakter, dan Wawasan Kebangsaan, Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum, Drajat Wisnu Setyawan mengingatkan bahwa nilai luhur Pancasila yang seharusnya menjadi pondasi dan praktik bernegara yang dicetuskan Bung Karno pada 1 Juni 1945. Namun, justru kini pemaknaannya semakin pudar. “Perlu sinergi bersama antara pemerintah, masyarakat, ormas dan lainnya untuk membumikan Pancasila,” kata Drajat.

Menurutnya, kondisi aktual saat ini yang berkaitan dengan kemajemukan Indonesia, yang disebabkan oleh keterbukaannya informasi dan kemajuan teknologi sehingga berdampak munculnya hoaks yang dapat memicu kericuhan, sehingga masyarakat dapat terprovokasi dengan isu SARA.

“Munculnya ancaman keutuhan NKRI ini, disebabkan kurangnya pemaknaan dan pengaplikasian nilai-nilai Pancasila. Termasuk keterbatasan perangkat kebijakan, bergesernya nilai etika kehidupan, dan memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa,” ucapnya.

Ia mengatakan, hasil survei Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terhadap eksistensi Pancasila pada tahun 2019, menunjukkan bahwa dari 1.200 orang di 34 provinsi, sekitar 62 persen masih menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, 14 persen tidak mengetahui dan 24 persen mulai meninggalkan nilai-nilai Pancasila.

Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh ormas sebagai bentuk lembaga demokrasi di Indonesia untuk mewujudkan Demokrasi Pancasila, untuk memperkuat ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan.

“Ormas harus menciptakan aktivitas dan program kegiatan dengan pesan yang bersifat ideologis, menerjemahkan ideologi dan wawasan kebangsaan Indonesia, menjaga konsistensi ideologi ormas, menanamkan ideologi dan wawasan kebangsaan kepada para anggotanya,” urainya.

Strategi lainnya adalah, dengan melakukan sinergi antara pemerintah dengan ormas melalui internalisasi dan penguatan nilai Pancasila, memerangi paham dan ideologi radikal, membangun sumber daya manusia berkualitas tinggi, memupuk dan memperkuat rasa nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air, membangun dan mengembangkan organisasi yang bersih dan kuat, serta mempersiapkan diri untuk menyikapi pengaruh globalisasi secara arif dan bijaksana.

“Semua permasalahan nasional yang melanda negara Indonesia ini, dapat diselesaikan apabila kita kembali mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Pelibatan ormas dalam srategi penguatan pengamalan nilai-nilai Pancasila merupakan langkah tepat karena ormas adalah organisasi yang dibentuk oleh masyarakat, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” Drajat menyimpulkan.

Di akhir penyampaiannya, Drajat juga berharap dengan adanya sinergi antara pemerintah dan ormas, akan menjadi strategi tepat dalam penguatan pembinaan ideologi Pancasila di masyarakat.

Berbagai pemikiran mengenai Pancasila itu muncul webinar kebangsaan yang dihelat DPP LDII secara daring (15/8), bertajuk ‘Peran Ormas Islam Membumikan Pancasila’. Acara yang diikuti 3.000 pengurus MUI, DPW, dan DPD LDII itu, melibatkan 300 studio mini di 34 provinsi.

Para pembicara adalah perwakilan Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Drs. Drajat Wisnu Setyawan M.M, Kasubdis Lingkim Direktorat Bela Negara Ditjen Potensi Pertahanan Umum Kemhan Kolonel Adm Amiruddin Laupe, S.Ss, MM., Ketua DPP LDII Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono M.Hum. Hadir pula Ketua Umum MUI DKI Jakarta KH Munahar Muchtar dan Ketua Umum MUI Jawa Barat KH Rachmat Syafe’i mengikuti webinar dan turut memberikan pandangan-pandangan.

Imam Subekti, Ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura mengatakan kami di daerah-daerah akan dukung penuh untuk membumikan Pancasila, karena bagaimanapun Pancasila salah satu alat pemersatu bangsa. (*)

LDII Jayapura Tebar Kurban, Wujud Ketakwaan, Kepedulian Sosial, dan Toleransi Beragama

Penyerahan ratusan paket kurban oleh LDII Kab. Jayapura secara dor to dor kepada semua lapisan masyarakat tanpa memandang SARA.

Sentani,ldiijayapura.com – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Jayapura pada Idul Adha 1442 H membagikan ratusan paket kurban dan puluhan ekor sapi sebagai wujud manifestasi ketakwaan, kepedulian sosial, dan toleransi antar umat beragama ditengah pandemi.

Pembagian tebar kurban tahun ini tidak hanya untuk umat muslim saja, namun juga kepada umat beragama lain dan tidak memandang suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) di Kabupaten Jayapura.

Dimasa pandemi ini panitia menyembelih, mengelola, dan membersihkan hewan kurban dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat yang mana kegiatanya difokuskan di Masjid Baitul A’la Jl. Yahim No. 70 Dobonsolo, Sentani, Kabupaten Jayapura.

Untuk menghindari kerumunan, panitia membagikan daging kurban secara dor to dor kepada masyarakat dan stakeholder lainya di Kabupaten Jayapura, pada Selasa (20/07/2021).

Selain membagikan ratusan paket kurban, LDII Kabupaten Jayapura juga menyerahkan 1 (satu) ekor sapi kurban kepada pengurus Masjid Agung Al-Aqsho Sentani untuk dapat didistribusikan kepada jamaah Masjid Agung Al-Aqsho.

Dalam sambutanya Ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura Imam Subekti bersyukur karena LDII Kabupaten Jayapura ditahun ini dapat berkurban sebanyak 17 ekor sapi dan 2 ekor kambing.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya kita didampingi oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Jayapura yang akan menngecek kesehatan dari hewan kurban yang akan disembelih, sehingga daging kurban yang kami tebar pada masyarakat dapat terjamin kesehatanya dan dapat dikonsumsi”, Kata Imam Subekti.

Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Jayapura Martheus Oiwari memastikan kesehatan dari daging kurban dengan mengecek hati, limpa, dan jantung sehingga daging kurban yang akan dikonsumsi ini kondisinya sehat.

Ketua Takmir Masjid Agung Al-Aqsho, Nurdin Sanmas mengatakan, “kami pengurus Masjid Agung Al-Aqsho mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kabupaten Jayapura yang selama ini tetap eksis memberikan bantuan hewan kurban yang akan disalurkan kepada jamaah Masjid Agung Al-Aqsho”.

“Walaupun dalam masa pandemi dimana perekonomian berpengaruh tetapi Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kabupaten Jayapura tetap eksis dalam memberikan bantuan”.

“Harapan kami kedepan kita semua sehat walafiat dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia tetap berkontribusi untuk kemaslahatan umat”, tambah Nurdin Sanmas. (dew)

LDII JAYAPURA SELENGGARAKAN VAKSINASI MASAL UNTUK ANAK

Peserta Vaksinasi Covid-19 Untuk Anak-Anak Usia 12-17 Tahun

SENTANI, ldiijayapura.com  – Dalam rangka menyukseskan program vaksin nasional, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Jayapura menyelenggarakan Gebyar Vaksinasi Covid-19 secara masal untuk anak usia 12-17 tahun.

Acara tersebut bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan DP MUI Kabupaten Jayapura yang diselenggarakan di halaman Masjid Baitul A’la, Jalan Yahim No. 70 Dobonsolo, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (23/7/2021).

Selain vaksinasi untuk anak usia 12-17 tahun juga melayani vaksinasi kedua usia 18 tahun keatas yang sebelumnya juga diselenggarakan secara masal pada tanggal 23 Juni 2021 yang lalu. Perhelatan yang dibuka untuk umum dan gratis ini diikuti oleh warga LDII, Jamaah Masjid Baitul A’la, dan masyarakat di Kabupaten Jayapura yang belum divaksinasi.

Sementara itu, Ketua panitia, H. Muhammad Sabir mengemukakan DPD LDII Kabupaten Jayapura menyelenggarakan vaksin kedua dan vaksin untuk anak-anak usia 12-17 tahun yang berjalan dengan lancar.

 “Kami mengapresiasi anak-anak sangat antusias dalam mengikuti vaksinasi, harapan kami supaya nanti disekolah dapat dibuka lagi untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya”, kata H. Muhammad Sabir.

Salah satu dari peserta vaksinasi anak, Fatanzka mengatakan, “alasan saya mengikuti vaksinasi anak usia 12-17 tahun ini untuk kesehatan kita sendiri, saya ingin sehat dimasa pandemi dan berharap saya dapat sekolah lagi dan korona segera berlalu”.

Dalam kesempatan ini ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura, Imam Subekti mengatakan pada hari ini tanggal 23 Juli 2021 kami DPD LDII Kabupaten Jayapura bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan DP MUI Kabupaten Jayapura menyelenggarakan vaksinasi masal yang bertujuan mensukseskan program pemerintah dalam rangka membentuk herd immunity guna menangkal penyebaran virus corona di Kabupaten Jayapura.

“Vaksinasi ini kami selenggarakan sebagai vaksinasi tahap kedua yang sebelumnya telah melakukan vaksinasi pertama, selain itu kita menyasar vaksinasi anak-anak usia 12-17 tahun, mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini dapat bermanfaat sehingga penyebaran virus corona di Kabupaten Jayapura dapat tertangani,” tambah Imam Subekti. (dew)

Belajar Jarak Jauh Bikin Keluarga Stress, Ini Solusinya

Foto Ilustrasi Belajar Daring

Jakarta (27/7). Pandemi Covid-19 menciptakan tekanan lain, berupa meningkatnya stres yang dialami keluar-keluarga di Indonesia. Salah satunya, akibat sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kini, anak-anak telah kembali ke PJJ setelah libur akhir semester.

“Keluarga merupakan satuan terkecil dari ketahanan nasional. Pandemi Covid-19 ini, menciptakan tekanan kepada keluarga terutama ibu dan anak,” ujar Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso. Para ibu, menurutnya, dipaksa kembali mengingat pelajaran sekolah di tengah-tengah kesibukan pekerjaan rumah atau karier.

Selain mengingat kembali pelajaran, para orangtua harus menghadapi menurunnya motivasi, konsentrasi, rasa bosan yang dialami anak, dan kebiasaan anak yang berubah, misalnya sulit bangun pagi.

Chriswanto menyebut, setiap ormas Islam memiliki pembinaan generasi muda pada lembaganya masing-masing, “Meskipun pandemi bersifat tidak selamanya, namun dalam jangka pendek dapat mengganggu pola pembinaan generasi muda,” ujarnya.

Ia memisalkan, pembinaan generasi yang alim-faqih, berakhlakul karimah (berbudi pekerti luhur), dan mandiri menjadi sulit, bila sang anak tidur kesiangan, “Pada banyak kasus PJJ membuat anak hilang kebiasaan bangun pagi. Lalu menjadi kebiasaan baru, hingga salat Subuh pun kesiangan, tidak lagi cekatan seperti biasa,” ujarnya. Hal itu butuh perhatian khusus.

Lebih jauh lagi, Ketua DPP LDII yang juga psikolog keluarga Siti Nurannisaa mengatakan PJJ turut menyumbang munculnya rasa tidak nyaman, seperti lelah, jenuh, cemas, atau takut, “Pada kondisi ini seseorang biasanya mudah tersulut emosi, seperti marah tanpa sebab,” ujarnya.

Ia mencontohkan, situasi sulit menjalankan peran sebagai orang tua di rumah, tekanan ekonomi, dan ketidaksiapan mendampingi belajar anak. Akibatnya, para orangtua mengalami kelelahan fisik dan kebingungan, untuk menyesuaikan diri dapat memunculkan reaksi yang berbeda, “Tekanan Saat dihadapkan pada situasi ini seringkali tanpa disadari timbul rasa stress baik pada orang tua, dan kondisi ini sangat berpengaruh pada kemampuannya untuk mendampingi anak,” imbuhnya.

Ia memberikan solusi. Sebagai langkah awal yang dapat dilakukan orang tua adalah menumbuhkan kesadaran untuk mengenali dan mengelola diri. Kenali hal apa saja yang memicu stress dalam diri, ambil waktu sejenak untuk mengambil jarak, atau melakukan relaksasi untuk menjernihkan pikiran dan emosi, sehingga dapat kembali memberi respon dengan perilaku yang positif.

Langkah berikutnya adalah memperkaya diri dengan pengetahuan dalam proses pendampingan belajar. Misalnya jika anak tidak memahami suatu materi pelajaran tertentu, ambil waktu sejenak untuk memperhatikan, apakah pelajarannya yang terlalu sulit atau cara belajarnya yang tidak sesuai.

“Anak yang memiliki gaya belajar visual akan mudah memahami pelajaran dengan membaca atau menonton video, namun untuk anak yang memiliki gaya belajar kinestetik, mereka senang belajar dengan gerakan tubuh atau praktik langsung, begitu pula anak dengan gaya belajar audio yang lebih senang belajar melalui suara,” ujarnya.

Pada saat pendampingan belajar, orang tua sebaiknya menyesesuaikan waktu dan kondisi belajar. Diskusikan dengan anak, cara apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar atau menghilangkan rasa bosan. Secara seimbang orang tua dan anak bisa saling memberi kesempatan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

Nisa memberikan resep: dengar, simak, dan perhatikan, “Saling mendengarkan akan memunculkan rasa saling pengertian, memahami satu sama lain, aman, nyaman dan lebih mudah untuk bekerja sama mencari jalan keluar dalam proses belajar,” ungkapnya.

Ia mengatakan ketika orang tua dan anak dapat mengungkapkan perasaannya, emosi menjadi lebih nyaman, sehingga orang tua bisa tetap memberi respon positif sesuai dengan kebutuhan dan keadaan anak. Beri penghargaan atas pilihan anak, hindari memberi penilaian atas pilihannya, namun tetap arahkan apabila pilihan anak melanggar aturan, atau menyangkut keamanan dan keselamatan diri.

Selaras dengan arahan Mendikbud melalui Surat Edaran No. 4 Tahun 2020, orang tua dan keluarga dapat berfokus pada pendampingan belajar, yang mengarahkan pada kecakapan hidup yang merupakan bagian dari pendidikan karakter.

Situasi pandemi yang tidak bisa diprediksi sampai kapan, rasanya akan bermanfaat jika digunakan untuk memperbanyak menanamkan perilaku positif dalam pendampingan belajar. Mengubah pola pikir kekhawatiran menjadi pola pikir berprasangka baik yang berfokus pada “hal baru apa yang anak-anak dapatkan selama pandemi”.

“Yang mungkin luput dari pandangan orang tua, karena tertutup dengan kecemasan terjadinya penurunan kompetensi belajar (learning lost). Perbanyak komunikasi dari hati ke hati, menjalin kebersamaan, dan tetap menumbuhkan semangat, serta kasih sayang dengan seluruh anggota keluarga,” pungkasnya.

Ketua Umum DPP LDII Ingatkan Pentingnya Mencegah Penyebaran Covid-19 Saat Hari Raya Kurban

Panitia Kurban DPD LDII Kabupaten Jayapura mengantar langsung daging kurban ke rumah-rumah warga.

Jakarta (12/7). DPP LDII mendukung kebijakan pemerintah melalui Kementerian Agama, yang mengatur teknis penyelenggaraan kurban. Menurut Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso, Idul Adha dan kurban adalah salah satu dari tiga ibadah yang diutamakan. Namun dalam kondisi pandemi Covid 19 saat ini, kemaslahatan umum harus dikedepankan.

“Bagi umat Islam, selain salat lima waktu dan haji, Idul Adha dan kurban merupakan ibadah yang diutamakan. Saat Covid-19 masih merajalela, pelaksanaan kurban diatur sedemikian rupa agar tidak memunculkan klaster baru,” ujar KH Chriswanto Santoso.

Warga di zona merah pada wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), menurut Chriswanto, sebaiknya mematuhi imbauan pemerintah demi kemaslahatan umum, “Menjaga satu sama lain saat wabah, itu adalah ibadah yang besar pahalanya. Inilah salah satu bentuk jihad dalam memerangi wabah penyakit,” pungkasnya.

Ia mengingatkan, gelombang kedua wabah Covid-19 akibat mutasi virus yang lebih menular dan juga lebih berbahaya. Dengan demikian, pemerintah mengatur agar tidak terjadi kerumunan dalam salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban, dilaksanakan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH).

“Bahkan, bila RPH terbatas, pemotongan diatur di ruangan terbuka dan melibatkan sedikit orang agar bisa jaga jarak. Pembagian daging juga harus diantar sukarelawan agar tidak terjadi antrean,” papar KH Chriswato Santoso mengutip SE Nomor 17 tahun 2021 tentang Peniadaan Sementara Peribadatan di Tempat Ibadah, Malam Takbiran, Salat Idul Adha, dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kurban Tahun1442 H/2021 M di Wilayah PPKM Darurat.

Menurutnya, semua demi kemaslahatan bersama untuk menekan wabah Covid-19 dan mengurangi jumlah pasien Covid-19. Ia menegaskan umat Islam memiliki kewajiban berjihad memberantas Covid-19, salah satunya dengan mengikuti surat edaran dari Kementerian Agama.

“Untuk itu kami akan membuat surat edaran untuk memperkuat imbauan Kemenag kepada DPW dan DPD agar diteruskan hingga Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Anak Cabang (PAC),” tegasnya.

Kurban Bernilai Strategis Selama Pandemi
Sementara itu ekonom Universitan Pembangunan Negeri Veteran Yogyakarta Ardito Bhinadi mengatakan, Idul Adha atau Hari Raya Kurban, memiliki nilai lebih selama pandemi Covid-19, “Ada wacana uang untuk membeli hewan kurban dijadikan bansos, bisa saja. Namun LDII menyerahkan praktek tersebut sesuai kondisi warga di wilayah masing-masing dengan tidak mengurangi esensi makna dari berkurban,” papar Ardito yang juga Ketua DPP LDII.

Namun menurutnya, meskipun kurban ibadah sunah yang diutamakan, tapi dapat memutar ekonomi peternak dan memiliki multiplier effect bagi perekonomian yang tengah lesu saat ini. Senada dengan Ardito, Ketua DPP LDII Sudarsono yang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor, saat dihubungi setelah mengikuti telekonferensi Sidang Isbat Kementerian Agama (Kemenag). Ia mengatakan pembagian daging kurban sangat membantu warga, dalam meningkatkan imunitas.

“Protein hewani mampu mendorong peningkatan imunitas masyarakat. Dengan adanya pembagian daging kurban di kala pandemi, warga bisa mendapatkan protein hewani secara cuma-cuma. Ini sangat membantu saat daya beli lemah,” kata Sudarsono.

Menurutnya, DPP LDII dalam pelaksanaan kurban tahun ini akan menyembelih hewan kurban sesuai edaran Kementerian Agama. Hewan kurban disembelih di RPH atau lokasi yang luas, dengan sirkulasi yang baik. Serta mengantar langsung daging kurban ke rumah-rumah warga.

Kapolri, Panglima TNI, dan Menkes Kunjungi Lokasi Vaksin, LDII Tuai Apresiasi

Jakarta (2/7). DPP LDII bersama Ponpes Minhaajurrosyidiin dan Puskesmas Cipayung menghelat vaksinasi Covid-19 secara masal sejak 14 Juni 2021. Kesuksesan perhelatan ini membuat Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, bersama Menkes Budi Gunadi Sadikin dan Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, tertarik meninjau lokasi.

Kapolri, Panglima TNI, dan Menkes didampingi pengurus DPP LDII mengunjungi lokasi vaksin di Ponpes Minhajjurrosyiddin, Jakarta Timur

Para pejabat tinggi Indonesia tersebut meninjau secara langsung vaksinasi Covid-19. Dalam kunjungan tersebut, mereka mengapresiasi kinerja Ponpes Minhaajurrosyidiin dan DPP LDII dalam menyukseskan program vaksinasi.

Apresiasi datang dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Ia memuji Padepokan Pencak Silat Persinas ASAD di pesantren tersebut yang menjadi lokasi vaksinasi. Selain tempatnya luas, padepokan itu juga memiliki sirkulasi udara yang baik, serta tersedia toilet yang memadai.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto juga berdialog dengan Kepala Puskesmas Cipayung drg. Rini Muharini. Ia menanyakan berbagai kendala yang dialami para tenaga kesehatan (Nakes) dalam melakukan vaksinasi.

“Kami kekurangan nakes pak, apabila Panglima TNI berkenan menambah nakes, kita akan menambah sentra vaksinasi di wilayah Cipayung agar target segera tercapai,” ujar drg. Rini Muharini.

Mendengar jawaban itu, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengaku siap untuk membantu menfasilitasi, termasuk menambah nakes agar pencapaian target masyarakat yang divaksin segera terpenuhi.

“TNI siap menambah nakes untuk membantu pelaksanaan vaksinasi di wilayah Jabodetabek. Lalu berapa orang yang di vaksin sehari?” ujarnya bertanya kepada salah satu nakes TNI.

“Siap, mampu memvaksin 400 lebih masyarakat dalam sehari,” jawab nakes TNI tersebut.

Marsekal Hadi Tjahjanto pun memberi apresiasi terhadap nakes itu, sekaligus berpesan di samping melaksanakan tugas, harus tetap menjaga kesehatan dan menerapkan disiplin protokol kesehatan. Panglima juga berpesan kepada masyarakat yang akan melaksanakan vaksin, walaupun sudah divaksin agar tetap melaksanakan disiplin protokol kesehatan yang utama.

Sementara itu, Ketua DPP LDII Teddy Suratmadji yang hadir menemani tiga pejabat negara yang meninjau lokasi juga memberi penjelasan.

Menurutnya, kegiatan DPP LDII yang diselengarakan 14 Juni 2021 ini, pada awalnya untuk para santri dan guru-guru pondok serta warga di sekitar pondok. Namun, karena dianggap representatif baik tempat maupun panitia penyelenggaranya, petugas dari Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur mengusulkan dibuka untuk umum.

“Program vaksinasi ini merupakan salah satu wujud permintaan Bapak Presiden Joko Widodo yang disampaikan langsung kepada Ketum DPP LDII KH. Chriswanto Santoso, agar bisa membantu program pemerintah menyukseskan Vaksinasi target satu juta orang per hari,” ujarnya.

DPP LDII kemudian bekerja sama dengan Ponpes Minhaajurrosyidiin dan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta untuk merealisasikannya. Vaksinasi massal yang dilaksanakan di Padepokan Persinas ASAD, Pondok Gede, Jakarta Timur ini menargetkan 500 peserta sehari dan akan terus bertambah sesuai dengan arahan pemerintah.

Hingga kini, sudah ada 9.438 warga yang berhasil divaksin. Mereka terdiri dari santri dan pengurus Ponpes Minhaajurrosyidiin, warga LDII, dan warga Kelurahan Lubang Buaya. Dengan adanya bantuan tenaga nakes dari TNI yang semula 50 menjadi 100 orang, harapannya target seribu orang perhari bisa tercapai.

Imam Subekti, Ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura menghimbau kepada masyarakat untuk jangan ragu divaksin, insya Allah aman dan halal selain itu ini sebagai bentuk ikhtiar kita memutus pandemi.

“Kemarin tanggal 23 Juni 2021 kami LDII Kabupaten Jayapura juga menyelenggarakan vaksin masal yang diikuti oleh warga LDII dan masyarakat sekitar RT 01, Kelurahan Dobonsolo, Sentani, ini merupakan komitmen kita bersama dalam kontribusi untuk bangsa dan negara, ” tambah Imam Subekti. (dew)

Hari Bhayangkara, LDII Apresiasi Kerja Nyata Polri Tangani Pandemi Covid-19

Jajaran Pengurus DPP LDII Dengan Kapolri beserta jajaran.

Jakarta (1/7). Tepat pada Hari Bhayangkara pada 1 Juli 2021, Divisi Humas Kepolisian RI (Polri) menyebut Polri membagikan 1.285.460 dosis vaksin. Dari jumlah tersebut, vaksinasi terbesar dilaksanakan di Jawa Barat, yakni 164.425 dosis. Sementara Kalimantan Utara menjadi wilayah terkecil dengan 8.558 dosis.

Dari rilis Humas Mabes Polri, jenis vaksin yang disuntikkan yakni Sinovac, dengan target masyarakat umum usia 18 tahun ke atas. Penyuntikan vaksin melibatkan 54.482 vaksinator, yang tersebar di 48.383 titik di gedung Polda, Polres atau Poltabes, Polsek, gedung olahraga, terminal, alun-alun, hingga pendopo kabupaten/kota, kecamatan, balai desa, hingga Puskesmas.

“Kami apresiasi tindakan Polri, yang turut bekerja keras dengan senyap sejak awal pandemi Covid-19 dan kini membantu menyukseskan program vaksin dari pemerintah,” ujar Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso yang ditemui di Pondok Pesantren Wali Barokah, Kediri, Kamis (1/7).

Chriswanto memberi ucapan selamat, atas hari ulang tahun (HUT) ke-75 tahun Bhayangkara dengan tema ‘Transformasi Polri Yang Presisi Mendukung Percepatan Penanganan Covid-19 Untuk Masyarakat Sehat dan Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Indonesia Maju’.

Dewan Pembina DPD LDII Kabupaten Jayapura memberikan cenderamata kepada Wakapolres Jayapura. (Foto Diambil Sebelum Masa Pandemi)

Menurut Chriswanto, kepolisian telah menjalani banyak peran di tengah-tengah masyarakat. Polri menjalani peran penegakkan hukum dan penegakan Kamtibmas, dan menjalankan peran lain.

“Peran tersebut dijalani jajaran Polri sebagai wujud tugas dan tanggung jawab untuk mengayomi dan melayani masyarakat. LDII mengapresiasi bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat terdampak pandemi,” tuturnya.

Menurut Chriswanto, pada awal pandemi sejak Maret 2020, jajaran Polri sudah bersiap mendukung pemerintah dalam penanganan pandemi. Bahkan, Mabes Polri membentuk operasi khusus yaitu Operasi Aman Nusa II guna membantu negara menanggulangi pandemi Covid-19.

Jajaran Polri menggiatkan anggota untuk menyemprotkan cairan desinfektan hampir di seluruh wilayah tanah air. Jajaran Polri juga melaksanakan peran untuk mengedukasi warga masyarakat untuk berdisiplin menjalan protokol kesehatan dan protokol pencegahan covid-19.

Mabes Polri telah menginstruksikan kepada 500 Polres agar menyiapkan 10 ton beras dan bahan pokok lainnya untuk membantu warga terdampak pademi, “Kami sangat mendukung tindakan polisi melakukan upaya pembubaran kerumunan massa yang dinilai berpotensi penyebaran Covid-19,” ujarnya.

“Seluruh masyarakat Indonesia dan warga LDII sangat terbantu dengan kinerja kepolisian. Bahkan, Polri juga mendirikan dapur-dapur umum bekerjasama dengan jajaran TNI untuk menyiapkan pangan bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya

Hingga saat ini, jajaran Polri sudah menyalurkan bantuan sosial kepada warga masyarakat, bagi masyarakat yang terdampak pandemi, “Yang lebih membanggakan, jajaran Polri membantu para guru dan siswa dalam proses belajar mengajar,” ujar Chriswanto.

Beberapa Polres yang sudah memiliki jaringan internet dan memiliki laptop dan komputer, mengizinkan para siswa menggunakan fasilitas internet di kantor Polres untuk tempat belajar daring bagi para siswa untuk melanjutkan proses belajar mengajar.

HUT Bhayangkara meskipun berada dalam kondisi wabah Covid-19, menurut Chriswanto, meningkatkan dukungan dan kepercayaan masyarakat. Ia berharap, Hari Bhayangkara menjadi titik awal pijakan sinergi yang lebih besar, antara LDII, warga masyarakat umumnya bersama Polri untuk menekan penyebaran Covid-19.

Tansiqul Harakah LDII dan Polri
Menurut KH Chriswanto Santoso, pihaknya telah menyelaraskan gerakan dengan Polri, dalam menjaga ketertiban dan keamanan sebagai modal membangun bangsa dan negara, “Kami telah menjaling saling pengertian atau taswiyatul manhaj dan hasilnya menyelaraskan gerakan atau tansiqul harakah dengan Polri,” ujarnya.

Kesepahaman antara LDII dan Polri terwujud, saat Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo mengunjungi DPP LDII beberapa waktu lalu, “Kami selalu berharap bisa bersinergi dengan ormas-ormas di Indonesia. Kami tahu bahwa di dalam melaksanakan tugas dalam hal menjaga Kamtibmas harus bersinergi. Maka, dalam rangka mengawal penanggulangan dan menurunkan angka Covid-19 serta pemulihan ekonomi nasional,” ujar Kapolri.

Menurut Kapolri, pihaknya berharap LDII bisa selalu bersinergi dengan Polri sehingga apa yang sudah terjalin bisa diteruskan dan dikembangkan. Sehingga Polri, ormas Islam, dan para tokoh masyarakat bisa mewujudkan cita-cita bangsa.”LDII adalah ormas yang paling kompak dari seluruh ormas yg ada. Kami siap dan butuh bekerja sama dengan LDII terkait dengan 8 program LDII,” pungkas mantan Kapolres Surakarta itu.

Menurut Kapolri Sigit, untuk menjadikan Indonesia menjadi aman dan sejahtera adalah tugas kepolisian dan lembaga dakwah, seperti LDII. Apalagi pada kondisi pandemi Covid-19, begitu banyak permasalahan yang harus diselesaikan bersama-sama. “Kami harus mengintegrasikan, mengkonsolidasikan ide dan segala macam gerakan ini menjadi tansiqul harokah atau gerak yang sama,” imbuhnya.

Menurut Kapolri, selama ini sudah ada sinergi antara LDII dan Polri. Sinergi itu, tinggal dikonsolidasikan kembali dalam tansiqul harokah, langkahnya harus seiring. Sinergi untuk urusan bangsa, antara Polri dan ormas Islam diharapkan mempercepat kebangkitan dan kemajuan, bangsa dan negara yang sedang terpuruk akibat pandemi.

Ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura, Imam Subekti mengucapkan selamat hari bhayangkara semoga transformasi Polri yang presisi mendukung percepatan penanganan Covid-19 untuk masyarakat sehat dan pemulihan ekonomi nasional menuju Indonesia maju. (dew)