Gelar Muswil, LDII Bali Deklarasi Menolak Radikalisme dan Terorisme

Wabup Badung Apresiasi Peran dan Sinergitas LDII

MANGUPURA – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Bali menyelanggarakan musyawarah wilayah (Muswil) VIII, Rabu (27/11). Acara yang digelar di Ruang Kertha Gosana Puspem Badung, itu dibuka Gubernur Bali yang diwakili Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Bali, IG Agung Ngurah Sudarsana.

Hadir juga Wakil Bupati Badung, Drs. I Ketut Suiasa, S.H., Ketua FKUB Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum komunikasi pimpinan daerah (Forkominda) Provinsi Bali, Polda Bali, Pangdam IX/Udayana, unsur organisasi massa (ormas) keagamaan, dan adat.

Sementara dari LDII hadir jajaran pengurus DPP yang dipimpin langsung Ketua Umum DPP LDII yang juga anggota dewan pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat, Prof. KH. Abdulah Syam, Ketua DPW LDII Provinsi Bali, Drs. H. Olih Solihat Karso, M.Sn menerangkan, acara dihadiri 300 orang dari pengurus DPD LDII, DPC LDII, pengurus cabang dan anak cabng kabupaten/kota se-Bali.

“Kami mengangkat tema: LDII untuk bangsa, mewujudkan insan professional religius, dengan menjaga keharmonisan alam Bali beserta isinya sebagai bentuk suksma Bali,” tutur Olih.

Lebih lanjut dijelaskan, diangkatnya tema tersebut merupakan bentuk komitmen warga LDII kepada Indonesia secara umum dan Bali secara khusus. Dalam acara muswil juga digelar rapat pleno untuk pemilihan pengurus DPW LDII Bali periode 2019 – 2024.

Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII berpesan kepada semua warga LDII di Bali agar tetap menjaga persatuan, kesatuan, dan kerukunan di Bali. “Minimal kita semua harus rukun dengan tetangga. Kita harus jaga Bali dan Indonesia ini selalu dalam bingkai Pancasila,” tegasnya.

Di lain bagian, Wabup Suiasa menyatakan, Pemkab Badung selalu membuka lebar kerja sama dengan LDII. Sebab, program, misi dan visi LDII selaras dengan program Pemkab Badung. Jika LDII memiliki delapan bidang program unggulan meliputi dakwah, pendidikan, energi terbarukan, ketahanan pangan, bela Negara, dan pertanian. Maka, Pemkab Badung memiliki program unggulan yang dicanangkan dalam Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB).

Salah satu tujuan dari lima program tersebut adalah pengentasan kemiskinan. “Program LDII ada ketahanan pangan dan pertanian, maka kami Pemkab Badung pun sama. Kami berusaha agar masyarakat Badung tidak sampai kekurangan pangan, atau msikin,” kata Suiasa.

Politisi asal Pecatu, Kuta Selatan, itu juga mengapresiasi warga LDII yang ikut menjaga kerukunan di wilayah Badung, sehingga Kabupaten Badung mendapat nilai indeks kerukunan 8,7. “Kita syukuri indeks kerukunan di Badung cukup tinggi ini juga ada peran dan sinergitas LDII. Terima kasih LDII,” kata Suiasa.

Acara ditutup dengan doa oleh Ketua MUI Kota Denpasar, Drs. KH. Syaifuddin Zaini. Diakhir acara dilakukan penandatanganan deklarasi dan komitmen bersama menolak radikalisme dan terorisme. [*/]

Waka Kwarnas Apresiasi Kemajuan Sako SPN Dalam Sibilnas 2019

Waka Kwarnas Apresiasi Kemajuan Sako SPN dalam Silbilnas 2019

Bantul (21/11). Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Kakak Laksamada Muda (Purn) Kingkin Suroso membuka kemah Silaturrahim Pembina Nasional (Silbinas) Sako SPN 2019. Ia mengapresiasi kemajuan Sako SPN yang berdiri sejak 2013.

Silbinas Sako SPN 2019 dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 21-23 November 2019 di Bumi Perkemahan (Buper) Dewa Ruci, Dusun Wonoroto, Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam perhelatan itu Sultan Hamengku Buwono X diwakili staf ahli Gubernur Bidang Sosial dan Kemasyarakatan Tri Mulyono, Kwarda Daerah Istimewa Yogyakarta Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam, Bupati Bantul Suharsono yang juga Mabicab Gerakan Pramuka Bantul, Mabisakonas SPN Prasetyo Sunaryo dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Kedatangan para tokoh disambut oleh pagar betis dan pertunjukkan pencak silat dari Sako SPN. Saat membuka acara, Kingkin Suroso cukup antusias dan memberikan respon positif dalam perhelatan Silbilnas Sako SPN 2019. Pramuka itu menurutnya, harus dikembangkan kembali dengan mendidik kaum muda yang berkarakter.

Tujuannya, agar kaum muda dapat lebih baik menyongsong masa depan dan diharapkan peranan tersebut dapat ditingkatkan dan menjadi garda depan dalam menghadapi teknologi. Dalam hal ini para Pembina dituntut peran dan dedikasinya agar lahir kader-kader muda yang dapat menghasilkan peserta didik mandiri, serta siap menghadapi teknologi 4.0.

“Tetaplah menjadi Pramuka yang sebenarnya. Saya yakin Sako SPN ke depan akan lebih maju karena sejalan dengan program revitalisasi satuan karya yang sudah ada pada Sako,” ujarnya.

Ia tidak ingin anak muda yang mengikuti pramuka, setelah umur 25 tahun menjadi Pramuka yang tidak jelas, akan tetapi menjadi Pramuka yang mandiri, berkecakapan hidup, dan berwirausaha.

“Bukan Pramuka yang tidak jelas, tapi Pramuka yang menjadi harapan bangsa. Sambutan kakak mabida tadi, memberikan gambaran tentang mimpi ke depan. Dan saya yakin Sako SPN mampu mencapai tujuan itu,” ujarnya.

Langkah nyata yang akan dilakukannya, pada tahun 2022 ia ingin ada perkemahan antar satuan komunitas. Tiap-tiap satuan komunitas akan bergabung menjadi satu dalam sentra perkemahan modern. Sebuah perkemahan di mana pramuka bermasyarakat.

GKR Mangkubumi juga mengatakan hal yang serupa saat simbolisasi pelepasan burung merpati bersama tokoh-tokoh lainnya. Ia mengapresiasi Silbilnas Sako SPN 2019 didepan 1.014 kakak-kakak pembina yang hadir.

Di sisi lain, Tri Mulyono pun menuturkan dalam pembukaan. Bagi kakak-kakak pembina pramuka Sako SPN, saat ini dibutuhkan literasi data untuk meningkatkan kemampuan mengolah data dan informasi, juga literasi manusia yang berupa softskill atau pengembangan individu yang dianggap mampu beradaptasi dengan industri 4.0 tersebut.

Menurutnya, saat ini Gerakan Pramuka memiliki PR untuk dihadapi. Masih banyak pekerjaan rumah untuk menciptakan pembina yang ditugaskan untuk adik-adik yang masih sekolah. Mereka juga harus menciptakan generasi generasi muda yang melek era 4.0 yang cinta Indonesia dan memiliki karakter kuat untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik.

“Para Pembina Sako SPN yang luar biasa, pendampingan buat generasi muda sangat penting, pembinaan karakter diri dan pendalaman dasa darma untuk majunya Indonesia” ujarnya.

Sebelum membuka acara, tokoh-tokoh yang hadir secara simbolis melakukan penanaman pohon. Ketua Pinsako SPN Edwin Sumiroza menuturkan, Sebelumnya sudah ada 254 pohon yang ditanam di bumi perkemahan yang berada di bibir pantai dan menghadap langsung ke Samudera Hindia ini.

Silbinas diikuti peserta yang terdiri dari 8 Sako Provinsi yang telah diresmikan oleh masing masing kwarda, yaitu Sakoda Lampung, Sakoda Jawa Barat, Sakoda DI. Yogyakarta, Sakoda DKI Jakarta, Sakoda Sumatera Selatan, Sakoda Jawa tengah, Sakoda Sulawesi Tengah, dan Sakoda Jawa Timur.

Selain itu beberapa Sakoda yang masih didampingi provinsi untuk merintis juga ikut serta, seperti Provinsi Banten, Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Bengkulu, Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Papua, Provinsi Kalimantan Utara, dan Provinsi Jambi.

Eh, Jangan Lupa Makan Pakai Tangan Kanan

Jakarta, (04/11) – “Ayo, kalau makan pake tangan yang bagus (*tangan kanan)!”, sewaktu kecil sering kita mendengar orang tua mengatakan kalimat tersebut, atau secara langsung memindahkan makanan yang kita pegang dengan menggunakan tangan kiri, ke tangan kanan.

Kebanyakan orang tua mengajarkan anaknya untuk makan dengan menggunakan tangan kanan, dan tidak ragu menegur jika anak makan tidak menggunakan tangan kanan. Satu diantara penyebabnya karena tangan kiri identik digunakan untuk melakukan kegiatan yang kotor, contohnya bersuci dari hadas besar maupun kecil.

Melakukan pekerjaan yang baik dengan tangan kanan merupakan adab dan kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi besar kita, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wassalam. Rasulullah terbiasa menggunakan tangan kanan untuk melakukan pekerjaan yang baik, seperti hadits yang diriwayatkan Aisyah rodhiallahu anha dalam hadits Bukhari,

Aisyah berkata: Nabi Shallallahualaihi Wasallam terbiasa mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dalam setiap urusannya (HR. Bukhari: 168)

Sejalan dengan para orang tua kepada anaknya, Rasulullah mencontohkannya lebih dulu. Rasulullah juga pernah menegur Umar bin Abi Salamah, seorang sahabat yang saat itu ada dalam asuhan Rasulullah untuk makan menggunakan tangan kanan.

Dalam hadits Bukhari, Umar bin Abi Salamah berkata: Saat itu aku masih kecil dan di dalam asuhan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Saat itu tanganku kesana kemari mengambil makanan didalam nampan. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasalam bersabda padaku: Hai anak kecil, mengucaplah Bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambillah makanan yang ada didekatmu (HR. Bukhari: 5376)

Tidak salah orang tua melatih anak untuk menggunakan tangan kanan sejak dini. Selain menjadi sunah Rasulullah dan karena alasan kebersihan, makan dengan tangan kanan memiliki sejumlah manfaat dari sisi kesehatan. Berikut LDII News menjabarkannya.

Berdasarkan jurnal yang dirilis oleh Scharoun and Bryden (2014), telah diketahui secara luas bahwa pola penggunaan tangan manusia sedemikian rupa sehingga sekitar 90% dari populasi manusia adalah pengguna tangan kanan dengan sisanya pengguna tangan kiri, setidaknya pada populasi orang dewasa. Kontrol tangan adalah kontralateral, sehingga tangan kanan berada di bawah kendali belahan otak kiri dan tangan kiri berada di bawah kendali belahan kanan (mis., Annett, 1981a, b).

Makan dengan tangan kanan dinilai lebih mengoptimalkan makanan yang dikonsumsi, karena ketika tangan kanan bergerak untuk mengambil makanan itu berarti otak kiri pada manusialah yang bekerja untuk mengendalikan tangan kanan. Otak kiri jugalah yang mengendalikan enzim pencernaan yang berfungsi mengoptimalkan manfaat yang didapatkan dari makanan, karena otak kiri juga mengendalikan perasaan positif pada manusia. Perasaan positif tersebut seperti memunculkan rasa senang, tenang dan rileks sehingga lebih mensyukuri dengan apa yang dikonsumsi.

Jaringan saraf yang terhubung pada otak lebih siap untuk menerima makanan yang dikonsumsi dengan tangan kanan yang dapat meminimalisir insiden saat makan. Insiden tersebut dalam arti insiden lidah terbakar saat mengkonsumsi makanan panas atau lidah tergigit ketika mengunnyah makanan.

Makan dengan tangan secara langsung juga dinilai memiliki manfaat kesehatan. Walaupun makan dengan menggunkan alat seperti sendok maupun sumpit dinilai lebih hiegienes, makan langsung dengan tangan akan membuat tangan langsung bersentuhan dengan air liur. Dimana dalam air liur terdapat enzim RNase yang berfungsi untuk menurunkan aktivitas bakteri yang ada pada tangan.

Tentu saja jangan lupa mencuci tangan sebelum menyantap makanan. Mencuci tangan sebelum makan akan membunuh bakteri jahat pada tangan dan meninggalkan bakteri baik. Bakteri baik tersebut akan tinggal didalam usus dan memperlancar sistem pencernaan.

Itulah sejumlah manfaat yang didapatkan ketika kita mengikuti sunah Rasulullah untuk melakukan aktifitas baik lainnya dengan menggunakan tangan kanan, termaksud ketika menyantap makanan. Jauh sebelum adanya penelitian dan teknologi, Rasulullah telah mengajari umatnya dan mencontohkan kebaikan-kebaikan sehari-hari untuk diterapkan seluruh umat di dunia.

Walaupun ada bermacam penelitian tentang keutamaan menggunakan tangan kiri dalam melakukan aktifitas, termaksud makan. Fakta menunjukkan lebih banyak manfaat yang diberikan ketika seseorang menggunakan tangan kanan.

Kalau anda terbiasa menggunakan tangan kiri, ada baiknya melatih diri untuk mulai sekarang menggunakan tangan kanan seperti yang dicontohkan Rasulullah. Dan bagi anda para orang tua untuk tidak khawatir terus mengajarkan kebaikan, termaksud dalam mendidik buah hati untuk menggunakan tangan kanan, tentunya dengan cara yang baik. (laras/lines)

Sumber:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3927078/
https://manfaat.co.id/manfaat-makan-menggunakan-tangan-kanan

DPP LDII Gelar Pelatihan Digital Marketing Untuk UKM

Jakarta, (7/11). Aidil Wicaksono, fasilitator dari Google Gapura Digital mengatakan cara memasarkan produk di zaman dulu berbeda dengan cara memasarkan di zaman sekarang. Hal tersebut ia sampaikannya dalam acara Pelatihan Digital Marketing untuk Unit Kegiatan Mandiri (UKM), yang diadakan di kantor pusat Dewan Pimpinan Pusat Lembaga dakwah Islam Indonesia (DPP LDII), Kamis (7/11).

“Teknologi Digital digunakan untuk memudahkan semua orang dalam melakukan segala hal, termasuk dalam berbisnis” ujarnya

Memasuki Industri 4.0, teknologi digital sangat dibutuhkan untuk menunjang segala aspek kehidupan modern, termasuk dalam aspek ekonomi dan bisnis. Untuk itu, Indonesia memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas mumpuni untuk bersaing di Industri 4.0

Pelatihan Digital Marketing untuk UKM yang dilaksanakan oleh DPP LDII merupakan salah satu cara DPP LDII mengembangkan SDM di Indonesia. Kegiatan hari ini merupakan lanjutan dari kegiatan hari Rabu (6/11) yang disampaikan Wira Pradana dari Departemen Teknologi Informasi dan Aplikasi Telematika (TIAT) DPP LDII,

“Tujuan kita masuk dalam dunia bisnis digital adalah bagaimana memudahkan konsumen untuk menemukan barang yang mereka cari di website. Jadi kita harus membuat platform kita semudah mungkin dan memiliki informasi selengkap mungkin,” ujar Aidil dalam pemaparannya

Ia menjelaskan bahwa para pegiat bisnis yang masuk dalam dunia digital harus memiliki konten yang bagus dan positif agar dapat menarik minat konsumen.

“Content adalah isi. Content marketing adalah gaya pemasaran masa kini. Content digital marketing merupakan strategi untuk merencanakan membuat dan mendistribusikan kegiatan pemasaran dalam dunia bisnis digital”

Aidil berujar bahwa content terdiri dari berbagai macam jenis. Content dapat berupa foto, tulisan artikel, infografis untuk menyederhanakan penjabaran data, video dan juga audio yang saat ini dikenal dengan sebutan podcast.

“Kita semua adalah pembuat content, dari post facebook, story instagram, video di channnel youtube dan banyak lagi. Akan tetapi membuat konten yang bagus dan berfaedah yang dapat menarik orang lain untuk melihat itu sulit,” ujarnya.

Pelatihan Digital Marketing untuk UKM yang diselenggarakan 6-7 November 2019 ini merupakan kerjasama DPPLDII dengan Pikub.com dan Google Gapura Digital. Kegiatan ini sebagai tindak lanjut hasil Lokakarya Nasional di Era Digital yang diadakan 10-13 September 2019 lalu. (laras/lines)

Apakah LDII Sesat ???

MUI Menetapkan 10 Kriteria Aliran Sesat

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sebuah pedoman yang berisi 10 kriteria untuk mengidentifikasi sebuah ajaran dinyatakan aliran sesat.

“Suatu paham atau aliran keagamaan dapat dinyatakan sesat apabila memenuhi salah satu dari sepuluh kriteria,” kata Ketua Panitia Pengarah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI Tahun 2007, Yunahar Ilyas. 10 kriteria itu antara lain:

1.    Mengingkari rukun iman (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Akhir, Qadla dan Qadar) dan rukun Islam (Mengucapkan 2 kalimat syahadah, sholat 5 waktu, puasa, zakat, dan Haji).
2.    Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah).
3.    Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.
4.    Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran.
5.    Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.
6.    Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7.    Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8.    Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
9.    Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.
10.    Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.

Fatwa MUI

Sekretaris Umum MUI Ichwan Sam menegaskan bahwa penetapan kriteria tersebut tidaklah dapat digunakan oleh sembarang orang dalam menetapkan bahwa suatu aliran itu sesat dan menyesatkan. “Ada mekanisme dan prosedur yang harus dilalui dan dikaji terlebih dahulu. Harus diingat bahwa tidaklah semudah itu dalam mengeluarkan fatwa,” kata Ichwan.

Di dalam pedoman MUI tersebut dinyatakan, sebelum penetapan kesesatan suatu aliran atau kelompok terlebih dahulu dilakukan penelitian dengan mengumpulkan data, informasi, bukti dan saksi, tentang paham, pemikiran, dan aktivitas kelompok atau aliran tersebut oleh Komisi Pengkajian.

Setelah itu, Komisi Pengkajian akan meneliti dan melakukan pemanggilan terhadap pimpinan aliran atau kelompok dan saksi ahli atas berbagai data, informasi, dan bukti yang telah didapat. Hasilnya akan disampaikan kepada Dewan Pimpinan. Kemudian, bila dipandang perlu, maka Dewan Pimpinan akan menugaskan Komisi Fatwa untuk membahas dan mengeluarkan fatwa.

“Dalam batang tubuh fatwa mengenai aliran sesat juga ada poin yang menyatakan akan menyerahkan segala sesuatunya kepada aparat hukum yang berlaku dan menyerukan agar masyarakat jangan bertindak sendiri-sendiri,” kata Ichwan.

Fatwa MUI Tentang LDII
Fatwa MUI Tentang LDII

Dari 10 kriteria tersebut, tak ada satupun yang dikerjakan oleh warga LDII. Pengurus LDII dari pusat hingga pengurus anak cabang mendukung penetapan kriteria aliran sesat. Dengan demikian baik masyarakat, maupun aparat di daerah, dan pengambil keputusan akan lebih n baik masyarakat, maupun aparat di daerah, dan pengambil keputusan akan lebih mudah dalam menangani persoalan aliran-aliran atau kelompok-kelompok Islam di Indonesia. (LC/ANTARANEWS)

Celana Cingkrang: Dari Fesyen hingga Politik Identitas

Ilustrasi Celana Cingkrang

JAKARTA, LINES.id – Topik soal pengaturan celana cingkrang kembali mencuat. Soalnya, Menag Fachrul Razi menggulirkan wacana soal pelarangan celana cingkrang di instansi pemerintahan karena identik dengan radikalisme. Padahal celana cingkrang bukan melulu soal ideologi, melainkan juga soal fesyen.

Celana cingkrang adalah celana yang panjang yang ujungnya tidak sampai mata kaki. Di dunia fesyen, celana cingkrang populer dikenal sebagai celana capri.

Sebagaimana dikutip dari detik.com yang dilansir The Independent, celana capri mulanya diperkenalkan oleh perancang busana Sonja de Lennart pada 1948. Kemudian dipopulerkan oleh pengusaha mode asal Inggris, Bunny Roger. Nama capri sendiri diambil dari nama pulau di Italia sana.

Popularitas celana capri makin naik ketika celana ini kerap dipakai oleh aktris Amerika Serikat (AS) ternama, Audrey Hepburn. Gara-gara sering dipakai oleh pemain film Breakfast at Tiffany’s itu, celana capri menjadi populer pada medio 1950-an hingga 1960-an.

Bukan hanya Audrey, penyanyi pop tersohor Michael Jackson pun identik dengan celana capri. Celana capri inilah yang juga memudahkan Michael Jackson untuk melakukan gerakan menari moonwalk yang terkenal itu.

Berdasarkan kepopuleran celana capri ini, bisa dilihat bahwa celana cingkrang bukan melulu soal ideologi. Dalam buku berjudul ‘Fashion in Focus’ (2011) karya Tim Edward, dijelaskan bahwa penafsiran fesyen secara serampangan justru akan menciptakan politik pembedaan. Alias, satu bentuk fesyen tertentu akan menghasilkan stigma pada identitas kelompok masyarakat. Dari usia, ras, hingga jenis kelamin.

Sebagai contoh, lelaki maskulin tak boleh memakai pakaian dengan warna cerah lantaran itu justru akan membuatnya jadi feminin. Sebaliknya, perempuan yang feminin tidak boleh memakai kemeja, yang justru akan menimbulkan kesan tomboy. Pendefinisian identitas dengan atribut yang dipakai justru akan melahirkan politik identitas.

Celana Cingkrang dan LDII

Celana cingkrang kerap diidentikkan dengan kelompok radikalisme. Padahal, atribut celana cingkrang juga diterapkan oleh kelompok islam yang justru menentang keras radikalisme. Mereka adalah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Dikutip dari laman resmi LDII, celana cingkrang memang menjadi anjuran. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan Ibnu Umar RA. Dalam hadis tersebut, dijelaskan oleh Nabi bahwa mereka yang memakai sarung melebihi mata kaki erat golongan orang sombong.

Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo saat membuka Rakernas LDII 2018

LDII sendiri merupakan salah satu ormas yang yang menentang radikalisme. Pada 2012, LDII meneken memorandum of understanding (MoU) dengan PBNU untuk menangkal radikalisme. Sedangkan pada 2018, Presiden Jokowi bahkan hadir ke acara Rakernas LDII untuk membuka acara ‘LDII untuk NKRI’.

Sebelumnya, Menag Fachrul Razi mengatakan tidak ada ayat di Alquran yang mewajibkan ataupun melarang penggunaan cadar atau nikab. Dalam penjelasan terbarunya, Fachrul mengaku tidak dalam posisi melarang cadar, tapi dia mendengar soal adanya aturan larangan memasuki instansi pemerintah dengan penutup muka, seperti helm dan sejenisnya.

“Saya denger, saya denger, akan ada keluar aturan tentang masuk ke instansi pemerintah tidak boleh pakai helm dan muka harus kelihatan jelas. Saya kira betullah untuk keamanan. Kalau saya sarankan mungkin, kalau kita ndak ikut-ikut masalah hukumlah ya. Saya kira itu. Kita hanya merekomendasi aturan agamanya aja,” ucap Fachrul Razi di Kemenko PMK, Kamis (31/10).

“Kalau kemudian yang terkait bidang hukum mengeluarkan aturan bahwa instansi pemerintah pakai helm, tidak boleh pakai muka… kelihatan, harus kelihatan. Tinggal tafsirkan aja. Kalau ada orang bertamu ke rumah saya nggak kelihatan mukanya, nggak mau dong saya. Keluar Anda,” tegas Fachrul Razi.

Selain itu, Fachrul mengungkit soal mereka yang memakai celana cingkrang. Menurutnya, meskipun di agama tidak dilarang, ada aturan soal penggunaan celana cingkrang di instansi pemerintahan.

“Kemudian masalah celana-celana cingkrang, itu tidak bisa dilarang dari aspek agama, karena memang agama pun tidak melarang. Tapi dari aturan pegawai, bisa, misalnya di tentara, ‘Kamu celana kamu kok tinggi begitu? Kamu lihat kan aturan pimpinan di tentara gimana? Kalau kamu nggak bisa ikuti, keluar kamu!’,” ujar Fachrul saat menyampaikan pemaparan di kantor Kemenko PMK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (31/10) kemarin.

Sumber : www.lines.id

Pengurus LDII Jayapura Dikukuhkan Sebagai Pengurus DMI

Pengurus DMI Kabupaten Jayapura Masa Bakti 2019 – 2024 Dikukuhkan Oleh Ketua DMI Papua

Sentani – Salah satu pengurus DPD LDII Kabupaten Jayapura, H. Muhammad Sabir, SE mengikuti pelantikan dan pengukuhan sebagai pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Jayapura masa bakti 2019-2024 sekaligus mengikuti “Workshop Manajemen Pengelolaan Masjid” bertempat di Hotel Sentani Raya, (3/11/2019).

Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan Sekda KAbupaten Jayapura Abdul Rahman Basri, M.KP.

Foto Bersama Dengan Asisten I Bidang Pemerintahan Sekda Kabupaten Jayapura Abdul Rahman Basri, M.KP

Adapun pelantikan pengurus DMI tersebut secara resmi dikukuhkan oleh ketua DMI Provinsi Papua dan disaksikan oleh forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat di Kabupaten Jayapura. (dew)