LDII: Keluarga Adalah Pendidik Pertama dan Utama

Foto: Ilustrasi Hari Keluarga Nasional (Harganas)

Hari Keluarga Nasional (Harganas) diperingati setiap 29 Juni. Untuk mengingatkan pentingnya peran dan nilai keluarga, sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat.
Harganas resmi ditetapkan pada 1992 oleh Presiden Soeharto. Namun akar peringatannya sendiri sudah ada sejak masa perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Peringatan tahunan ini berawal dari penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 22 Juni 1949. Seminggu kemudian, tepatnya 29 Juni 1949, para pejuang pun pulang dan kembali kepada keluarganya.

Dikutip dari laman BKKBN, Indonesia memang menyatakan kemerdekaan pada 1945. Hanya saja, situasi tidak langsung kembali normal sehingga rakyat masih harus berjuang mempertahankan kemerdekaan. Wajib militer berjalan dan mereka harus berpisah dengan keluarga. Pengorbanan ini tidak sia-sia sebab pada 22 Juni 1949, Belanda menyerahkan kedaulatan bangsa Indonesia. Kemudian pada 29 Juni 1949, para pejuang kembali pada keluarga mereka.
Akan tetapi, tidak semua pejuang kembali dalam kondisi selamat. Keinginan kuat untuk menggantikan keluarga yang hilang akibat perang ditambah pengetahuan minim tentang usia perkawinan membuat pernikahan dini massif. Akibatnya, angka kematian ibu dan bayi begitu tinggi.

Harganas dibentuk sebagai peringatan kepada masyarakat Indonesia akan pentingnya keluarga. Keluarga dianggap memiliki peran besar sebagai upaya memperkuat ketahanan nasional dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Lewat Harganas, masyarakat Indonesia diingatkan bahwa keluarga sebagai kekuatan penting untuk membangun bangsa dan negara. Dari tahun ke tahun, peringatan Harganas mengusung tema berbeda. Tahun ini Harganas mengangkat tema ‘Keluarga Keren Cegah Stunting’.

Dengan Harganas mengambil tema seputar stunting, diharapkan tumbuh kesadaran masyarakat bahwa stunting ini bukan persoalan sepele.
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dan berdampak pada kegagalan pertumbuhan otak akibat kekurangan gizi. Tidak hanya masalah pada kognisi, anak dengan stunting bisa meningkatkan risiko hipertensi, perlemakan hati, juga obesitas.

Ketua DPP LDII Dr. Siti Nurannisaa Parama Bekti, S.Sn, MPd mengatakan bahwa dalam pencegahan stunting, pengetahuan keluarga sangat berpengaruh pada perilaku pengaturan kesehatan dan gizi dalam kesehariannya.

“Edukasi yang dilakukan secara berkala, memberikan pemahaman fungsi keluarga dapat menumbuhkan dan menginternalisasikan pola asuh, praktik, dan perilaku yang mengedepankan pengetahuan gizi. Dan juga tumbuh kembang anak sejak masa kehamilan dan pada 1.000 hari pertama kehidupan,” ujarnya.

Asupan gizi yang baik pada masa tersebut memberi dampak pada perkembangan kemampuan otak dan fisik, produktivitas dan kreativitas yang semakin optimal, “Pemberdayaan keluarga untuk membangun pola makan gizi seimbang, pola asuh, serta kesehatan sejak dini bisa menjadi salah satu upaya mencegah stunting, dan menjadi perilaku yang tertanam sebagai karakter yang sadar pada kesehatan dan gizi di generasi berikutnya,” tambah Siti Nurannissa.

LDII memandang bahwa bangsa yang kuat berasal dari generasi penerus yang terbina dengan baik. “Dan keluarga merupakan kelompok terkecil dan terdekat dalam pembinaan generasi penerus yang saling berinteraksi selama 24 jam dalam 7 hari,” tegas Ketua Umum DPP LDII, Ir. KH. Chriswanto Santoso, MSc. “Keluarga adalah pendidik pertama dan utama. Sehingga perkembangan dari generasi yang terlahir fitrah sangat dipengaruhi oleh keluarga,” lanjut Chriswanto.

Ia menjelaskan bagaimana LDII menerapkan pembinaan keluarga dalam beberapa aspek dan tingkatan. Mulai aspek budi pekerti, keilmuan hingga kesehatan, dan sejak cabe rawit (balita) hingga ke usia pra nikah. “Bahkan yang telah menikah pun kami tetap arahkan dengan nasehat-nasehat keharmonisan keluarga, melalui forum-forum pengajian,” imbuh Chriswanto.

Advokasi kesehatan keluarga, termasuk pencegahan stunting, saat ini, menurut Chriswanto, juga diupayakan melalui upaya swadaya di tingkat rumah tangga melalui kampanye tanaman obat keluarga yang sedang dicanangkan oleh DPP LDII melalui Departemen Peranan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga dan Departemen Pengabdian Masyarakat.

Sementara itu menurut ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura, Imam Subekti, “perkembangan dan pertumbuhan anak ditentukan bagaimana habbit keluarga atau lingkungannya, ia akan belajar banyak hal termasuk mendapatkan cinta, kasih sayang, pendidikan ahlak dan budi luhur maupun prilaku hidup sehat yang dapat berperan membangun karakter anak sejak dini,

“Oleh karenanya peran orang tua dan keluarga sangatlah penting dalam membina anggota keluarga sehingga dapat mencetak generasi yang unggul, prima, sehat, bahagia dunia dan akhirat,” kata Imam Subekti. (dew)

Bupati Jayapura Tandatangani Prasasti Peresmian Masjid Baitul A’la

Bupati Kabupaten Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si menandatangani prasasti peresmian Masjid Baitul A’la Sentani disaksikan oleh Forkopimda, tokoh agama, dan tokoh masyarakat di Kabupaten Jayapura

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si menandatangani prasasti peresmian Masjid Baitul A’la Sentani yang merupakan masjid binaan DPD LDII Kabupaten Jayapura bertempat di Ballroom Hotel Grand Allison Sentani, pada Sabtu (26/06/2021).

Dalam acara tersebut Bupati Jayapura didampingi oleh forkopimda, Ketua Panitia Pembangunan Masjid H. Samaludin Bogra, tokoh agama, dan tokoh masyarakat serta disaksikan oleh masyarakat Kerukunan Keluarga Daerah Barru (KKDB) dan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Jayapura dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Bupati Kabupaten Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si menandatangani prasasti peresmian Masjid Baitul A’la yang beralamat di Jl. Yahim No. 70 Dobonsolo, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Sebelumnya pada tanggal 8 Mei 2021 yang bertepatan dengan hari ke-25 Ramadhan 1443 H, Wakil Bupati Jayapura, Giri Widjayantoro berkunjung dan hadir meresmikan Masjid Baitul A’la yang berada di Jl. Yahim No. 70 Dobonsolo Sentani yang saat itu didampingi oleh forkopimda, tokoh agama, dan tokoh masyarakat serta disaksikan oleh warga LDII Kabupaten Jayapura, jamaah masjid, dan warga sekitar yang hadir.

Bupati Jayapura mengucapkan permohonan maaf karena pada saat itu tidak bisa hadir dikarenakan sedang diluar daerah, sehingga saat itu kami mewakilkan kepada Wakil Bupati, dan pada saat ini (Red: Sabtu 26 Juni 2021) prasasti peresmian Masjid Baitul A’la ditandatangani.

Sementara itu Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura, H. Muhammad Sabir yang hadir dalam acara penandatangan prasasti tersebut mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Jayapura karena telah bersedia menandatangani peresmian Masjid Baitul A’la.

“Semoga masjid ini dapat bermanfaat untuk menyebarkan syiar Islam di Kabupaten Jayapura serta menjadi salah satu ikon kerukunan umat beragama dan antar umat beragama di Kabupaten Jayapura sehingga dapat menjadi rahmatan lil a’lamiin,” tambah Muh. Sabir. (dew)

Ketum DPP LDII: Gara-gara Narkoba, Bonus Demografi Bisa Hanya Pepesan Kosong

Ketua Umum DPP LDII, Ir. KH. Chriswanto Santoso, M.Sc

Jakarta (25/6). Penyalahgunaan narkoba dan psikotropika bukan hanya merusak level individu, tapi juga sebuah bangsa. Bila pemerintah menggaungkan bonus demografi pada 2030, di mana jumlah usia produktif sangat besar. Impian itu bisa musnah bila milenial saat ini terpapar narkoba dan zat psikotropika.

“Inilah pentingnya kesadaran kolektif untuk mencegah dan memerangi penyalahgunaan narkoba dan psikotropika. Sebab, cita-cita mengenai masa depan Indonesia yang maju sejahtera pada 2030 bisa buyar hanya karena narkoba,” ujar Ketua DPP LDII KH Chriswanto Santoso.

KH Chriswanto Santoso mendukung Hari Anti Narkotika Internasional (HANI), yang diperingati setiap tahun pada 26 Juni. Menurutnya, tema HANI 2021 adalah War On Drugs atau perang melawan narkoba di masa pandemi Covid-19 menuju Indonesia Bersih Narkoba (BERSINAR), harus didukung semua pihak.

“Tema itu sudah tepat, penyalahgunaan narkoba dan psikotropika sudah jadi kejahatan ekstraordinasi atau luar biasa, bahkan kejahatan kemanusiaan. Indonesia bukan lagi jalur narkoba, sudah jadi pasar narkoba. Ini harus diperangi,” ujarnya.

Ada alasan yang sangat kuat, selain dari sisi agama dan moralitas dalam memerangi penyalahgunan narkoba. Ia menegaskan, semua elemen masyarakat termasuk ormas-ormas Islam, sedang menyiapkan kader-kader bangsa, “Kami di LDII membangun generasi profesional religius dengan program Tri Sukses, yakni generasi alim-faqih, berakhlak mulia, dan mandiri,” imbuhnya.

Kader-kader bangsa itu, menurutnya akan berpartisipasi dalam membangun Indonesia Emas pada 2030. Bila generasi muda saat ini, rusak oleh narkoba dan psikotropika, bisa dibayangkan generasi seperti apa yang didapatkan Indonesia pada masa mendatang.

“Bahwa Indonesia Emas akan mewujudkan Indonesia yang maju, adil, sejahtera, dan makmur hanya jadi pepesan kosong bila generasi saat ini terkena obat-obatan terlarang,” ujarnya.

Menurutnya, narkotika, psikotropika, dan zat aditif (NAPZA) sudah menjadi fenomena global dan merupakan ancaman kemanusiaan (human threat) bagi warga pada tingkat lokal, nasional, regional, dan global. “Indonesia tidak terkecuali, juga menghadapi ancaman serius terutama dari segi prevalensi pengguna yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” imbuhnya.

Peningkatan peredaran dan pengguna, menurutnya juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi, “Dengan internet, komunikasi antara pengguna, pengedar, dan pemasok dapat dengan mudah dilangsungkan, kapanpun dan di manapun,” tutur KH Chriswanto Santoso.

Menurutnya, perdagangan narkoba sudah berbentuk jaringan berskala besar dengan kekuatan organisasi, modal, kapasitas perdagangan yang bersifat transnasional. Internet dan sistem kerja yang kian berjejaring besar itu, menjadikan narkoba ancaman yang kompleks terhadap kemanusiaan.

Pemerintah telah bertindak tegas dengan menghukum mati bandar-bandar narkoba internasional di Indonesia. Tapi, bila tiap keluarga tidak memiliki pengetahuan dan ketahanan, pemberantasan narkoba juga berat. Untuk itu, ia meminta para orangtua dan siapapun untuk selalu mendidik, membina, dan menjaga generasi muda dari ancaman narkoba dan psikotropika lainnya.

Dalam upaya mencegah penggunaan narkoba, LDII melarang warganya merokok, “Jumlah remaja perokok di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Masalahnya, merokok bukan hanya merusak kesehatan, tetapi merokok juga memuluskan jalan menggunakan narkoba. Boleh dikata, merokok adalah pintu menuju narkoba,” kata Ketua Departemen Pengabdian Masyarakat DPP LDII dr. H. Muslim Tadjuddin Chalid, Sp. An-KAKV.

Menurut Penasehat Forum Komunikasi Kesehatan Islam (FKKI) itu, nikotin dari tembakau memicu pelepasan dopamin yang membuat sesorang merasa bahagia. “Saat efek dopamin menurun, perokok dikhawatirkan akan berpindah ke narkoba yang juga bersifat adiksi. Mereka akan menemukan sensasi yang lebih kuat dibanding merokok. Inilah yang kerap mengantar orang menggunakan narkoba,” paparnya.

Ia mengingatkan, narkoba dan psikotropika hanyalah kesenangan sesaat, bahaya bagi diri sendiri dan merugikan orang lain jauh lebih besar. Pecandu bisa mengalami sakit jiwa, bahkan kematian. Belum lagi tindak kriminal akibat kecanduan narkoba sangat merugikan orang lain.

Sementara itu ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura, Imam Subekti menghimbau kepada masyarakat untuk saling menjaga peredaran gelap narkoba, saling memberikan edukasi, dan pengawasan jangan sampai keluarga, teman, atau masyarakat pada umumnya menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

“Narkoba ini merupakan musuh bersama, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun seluruh pihak, termasuk warga LDII Kabupaten Jayapura ini ada beberapa orang yang menjadi relawan anti narkoba yang ditugaskan langsung oleh BNN pusat, ini merupakan upaya kontribusi kami untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia bebas dari narkoba”, tambah Imam Subekti. (dew)

LDII Kota Jayapura Selenggarakan Vaksinasi Masal di Dua Tempat

Gebyar Vaksinasi Covid-19 di Kantor DPW LDII Provinsi Papua

Jayapura, ldiijayapura.com – LDII Kota Jayapura bekerjasama Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Klas II Jayapura, dan Unicef Papua & Papua Barat menggelar gebyar vaksinasi covid-19 di Kantor DPW LDII Provinsi Papua, Jl Raya Abepura No.90 Bucend II Entrop RT 01 RW 11 Kelurahan Adipura, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura Papua, pada hari Kamis, (24/06/2021).

Lebih dari 200 orang mengikuti vaksinasi covid-19 yang terdiri dari warga LDII Kota Jayapura terutama usia lansia serta masayarakat sekitar Kantor DPW LDII Provinsi Papua.

Dalam gebyar vaksinasi ini akan diselenggarakan di 2 (dua) tempat yakni di Kantor DPW LDII Provinsi Papua dan di Pondok Pesantren Pelajar dan Mahasiswa (PPPM) Al-Manshurin, Jl Taruna Bhakti, Gg Maraleks, RT 02 RW 10 Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura Papua. Heram, Kota Jayapura yang dilaksanakan pada hari Jumat, 25 Juni 2021 yang ditargetkan lebih dari 200 orang.

Tujuan dari pada Vaksinasi ini adalah memberikan kekebalan pada seseorang terhadap virus covid-19. Harapannya dengan adanya vaksinasi ini bisa mengurangi kasus serius dan mengatasi pandemi covid-19 di Indonesia.

Salah satu petugas kesehatan dari KKP Klas II Jayapura sedang memberikan sosialisasi kepada peserta vaksinasi DPD LDII Kota Jayapura.

Dalam kegiatan tersebut dijelaskan pelaksanaan vaksinasi dengan mengikuti petunjuk teknis pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 oleh petugas dari KKP Klas II Jayapura.
Sebelum divaksin diadakan registrasi/pendaftaran, screening atau wawancara kesehatan peserta, jika tidak lolos maka tidak bisa melanjutkan vaksinasi, tetapi jika lolos maka dilanjutkan untuk mendapatkan Vaksinasi Covid-19.

Setelah divaksin, maka dilakukan observasi selama 30 menit untuk mengantisipasi terjadinya KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Sambil menunggu peserta vaksinasi diberikan penyuluhan tentang covid-19, protokol kesehatan,menjaga kesehatan, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Hadir dalam kegiatan Gebyar Vaksinasi Covid-19 diantaranya Harold M Pical, SKM., M. Kes Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Jayapura, dr. Paul Manoempil Koordinator UNICEF Wilayah Papua & Papua Barat, H. Sugiyono, SE, MSi Ketua DPW LDII Prov Papua, dan Ustadz Saifullah Ketua LDII Kota Jayapura.

Dalam acara tersebut, Ustadz Saifullah selaku Ketua DPD LDII Kota Jayapura mengatakan bahwa, ” kegiatan ini merupakan wujud kontribusi dan pengabdian LDII pada masyarakat sekitar, kita sediakan tempat yang representatif untuk terlaksananya vaksinasi ini”.

“Kami mengucapan terimakasih kepada pihak Dinas Kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Jayapura, Unicef Papua dan pemerintah Kota Jayapura atas terselenggaranya acara tersebut dengan lancar dan nyaman. (Aditya/Lines)

LDII Jayapura, Gandeng Dinkes Gelar Vaksinasi Masal

Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura, H. Muhammad Sabir, SE bersama pimpinan dan jajaran Dinas Kesehatan kabupaten Jayapura

Sentani, ldiijayapura.com – DPD LDII Kabupaten Jayapura menyelengarakan Gebyar Vaksinasi Covid-19 kerjasama antara DPD LDII, DP MUI, Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, dan RS Lanud Silas Papare bertempat di Halaman Masjid Baitul A’la, Jl. Yahim No. 70 Dobonsolo, Sentani, Kabupaten Jayapura pada hari Rabu (23/06/2021).

Perhelatan tersebut berjalan dengan lancar yang diikuti oleh warga LDII, Jamaah Masjid Baitul A’la, dan Warga di sekitar RT 01 Kelurahan Dobonsolo yang belum divaksinasi.

Sementara itu Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura, H. Muhammad Sabir, SE mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura dan RS. Lanud Silas Papare yang telah membantu dalam acara gebyar vaksinasi covid-19 ini.

“Acara ini merupakan upaya LDII dalam membantu pemerintah dalam menyukseskan program vaksin nasional, sehingga semakin banyak masyarakat yang divaksin maka akan meraih herd immunity, keluar dari masa pandemi dan pada akhirnya kesehatan pulih ekonomi bangkit,” ujar Muhammad Sabir.

Menurutnya, Presiden Jokowi menargetkan 1 juta dosis vaksin setiap hari, “Ini perlu dukungan semua pihak untuk menciptakan kekebalan komunitas,” imbuhnya.

Suasana Vaksinasi di Masjid Baitul A’la Sentani

“Kami memulai vaksinasi untuk menggerakkan kalangan masyarakat agar mau divaksin, sehingga krisis kesehatan ini segera berakhir. terkait kontroversi yang ada, vaksinasi itu tetap lebih baik dari pada tidak,” tambah Muhammad Sabir.

Pada waktu yang sama Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Wa Juhria, SKM hadir dalam acara gebyar vaksinasi tersebut memberikan apresiasi kepada pengurus LDII karena telah membantu menggerakan masyarakat untuk mengikuti vaksinasi covid-19 secara masal.

“Vaksin ini aman dan halal, adapun efek dari vaksin tersebut masing-masing orang akan berbeda-beda, tergantung dari kondisi tubuhnya, namun sejak januari 2021 hingga sampai saat ini di Kabupaten Jayapura belum ditemukan efek yang membahayakan,” kata Wa Juhria.

“Silahkan yang belum vaksin dapat mengikuti vaksinasi di puskesmas-puskesmas terdekat di wilayah-wilayah Ibukota Kabupaten Jayapura, walaupun sudah divaksin maka supaya tetap menerapkan protokol kesehatan,” jelasnya.

“Kalau sudah vaksin bukan berarti tidak akan kena Covid-19, namun tetap akan kena tetapi gejalanya ringan bahkan tidak bergejala sama sekali, karena antibodi kita sudah mengenal si virus ini setelah kita divaksin, oleh karenanya tetap menjaga protokol kesehatan” tambah Wakil Juhria. (*dew)

Ketum LDII Launching Kader Gemilang LDII sebagai Komitmen atas Isu Lingkungan

Jakarta (19/6). Sebagai andil merawat lingkungan yang menjadi tanggung jawab bersama dan juga mendukung Generasi Restorasi yang digalakkan pada Hari Lingkungan Hidup 2021, DPP LDII menggelar kembali Webinar Lingkungan Hidup mengenai Pengelolaan Sampah Rumah Tangga demi Pemulihan Lingkungan Hidup di Masa Pandemi Covid 19.

Dalam acara tersebut, Ketua Umum DPP LDII KH. Chriswanto Santoso, sekaligus meluncurkan Kader Gemilang (Generasi Muda Indonesia Bela Lingkungan) LDII sebagai komitmen untuk terus mewujudkan sumber daya manusia profesional religius berwawasan lingkungan.

“Para kader Gemilang LDII ini siap untuk ditingkatkan kemampuannya melalui berbagai pelatihan untuk menjadi agen perubahan ( agent of change) dalam mengatasi masalah lingkungan. Kerjasan dengan pemangku kepentingan terkait isu lingkungan seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam melatih kader Gemilang LDII tersebut sangat kami harapkan,” kata KH Chriswanto.

Hadir dalam webinar tersebut, narasumber mewakili KLHK, Cicilia Sulastri, SH., M.Si., Kepala Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan, BP2SDM dan Dr. Ir. Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah, Dirjen PSLB3, serta Dr. Ir. Hayu S. Prabowo, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, MUI. Dari kalangan akademisi dan praktisi masalah sampah, hadir Guru Besar Fateta IPB – Prof. Dr. Arif Sabdo Yuwono, dan pengurus harian dari Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam dan Lingkungan (LISDAL), DPP LDII – Hj. Erni Suhaina Ilham Fadzry, S.Pd.I.

Berkaitan dengan peluncuran Kader Gemilang LDII, Cicilia Sulastri mengapresiasi kader peduli lingkungan dari LDII ini, “Peran LDII dengan program Kader Gemilang ini tentunya selaras dengan tugas pokok fungsi dari Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan,” ujarnya.

Untuk itu, Cicilia mengimbau pada Kader Gemilang LDII untuk meningkatkan pengetahuan mengenai lingkungan melalui berbagai media, melakukan kampanye perilaku ramah lingkungan melalui media sosial, dan membuat jejaring komunikasi dengan instansi. “Kader Gemilang LDII dapat melakukan inisiasi aksi milenial bidang lingkungan, khususnya mendukung pengembangan sirkuler ekonomi,” jelasnya.

Di KLHK, Program Gerakan Masyarakat Bela Lingkungan sendiri memiliki tujuan untuk mendorong agar lembaga masyarakat dan komunitas dapat melakukan gerakan dibidang lingkungan hidup dan kehutanan yang melibatkan sebanyak mungkin warga masyarakat, berkelanjutan, bersinergi satu sama lain, dapat membantu mengatasi masalah lingkungan hidup dan kehutanan di daerahnya serta terukur hasilnya, outcome/dampaknya.

“Meningkatkan peran aktif/nyata lembaga masyarakat dan komunitas dalam melakukan gerakan dibidang lingkungan hidup dan kehutanan juga menjadi capaian yang diharapkan,” kata Cicilia.

Secara sederhana, Cicilia mencontohkan gerakan yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk menjaga lingkungan adalah dengan menggunakan air dan listrik sesuai dengan keperluan, jangan membuang sampah sembarangan, pilah dan kelola sampah dari rumah/sekolah, hindari plastik sekali pakai dan belanja menggunakan tas daur ulang.

“Makan dan minum sampai habis, menanam dan memelihara pohon, mencintai flora dan fauna, dan mengikuti berbagai aksi di bidang lingkungan,” katanya.

Selain itu, Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Novrizal Tahar mengatakan gaya hidup untuk mengurangi sampah itu dimulai dari rumah, karena persoalan sampah merupakan persoalan multidimensi yang juga membutuhkan kolaborasi setiap elemen masyarakat.

Novrizal berpendapat mengatasi persoalan sampah harus dilakukan dengan cara kolaborasi skala besar dan tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah pusat ataupun daerah saja. Seluruh elemen, termasuk organisasi masyarakat diharapkan juga turut berkolaborasi. Karena menurutnya dari perilaku-perilaku kecil yang dilakukan masyarakat dapat turut menyelamatkan bumi dari ancaman sampah.

Sementara itu ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura, Imam Subekti mengatakan kami sejak tahun 2010 telah mengkader pemuda-pemudi LDII Kabupaten Jayapura untuk menjadi pejuang lingkungan dengan berbagai macam kegiatan yang telah dilaksanakan dan diikuti bekerjasama dengan stakeholder terkait. (**dew)

Tingkatkan Kapasitas Organisasi, LDII Papua Gelar Konsolidasi

JAYAPURA, LDIIJAYAPURA.COM – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Jayapura mengikuti konsolidasi organisasi yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Provinsi Papua yang diikuti oleh pengurus harian DPW dan DPD se-Provinsi Papua secara daring, pada Minggu (20/6/2021).

Konsolidasi dibuka oleh pembina DPW LDII Provinsi Papua Sugeng R. “Tugas organisasi baik di tingkat DPW, DPD, PC, dan PAC di Provinsi Papua salah satunya adalah mampu mengatasi masalah yang muncul dan bersinergi dengan pemerintah,” tuturnya. Kepada pengurus organisasi, Sugeng mengingatkan agar menjalankan tugas yang telah diamanahkan, “Seperti menghadiri kegiatan yang telah dijadwalkan oleh pengurus DPW,” katanya.

Kegiatan ini, Ketua DPW LDII Provinsi Papua H Sugiyono SE MSi mengatakan sebagai pendekatan antar pengurus DPW dan DPD agar kegiatan yang dilaksanakan baik di tingkat kota maupun provinsi dapat berjalan dengan baik. “Prinsip organisasi ada tiga yaitu struktur, personel, dan sistem,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Papua Syaifullah menjelaskan tentang dasar-dasar asas kebangsaan. Selaku pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), Syaifullah juga menjelaskan fungsi organisasi MUI.

Pertama, khodimul ummah yaitu melayani umat Islam. Kedua, himayatul ummah. Dalam bahasa Arab, himayah berarti melindungi atau menjaga. “Himayah pertama adalah menjaga agama, himayah kedua adalah menjaga umat, dan himayah ketiga adalah menjaga negara,” paparnya.

Sementara melindungi yang dimaksud adalah melindungi umat dari praktik-praktik kehidupan umat yang dilarang dalam Islam, termasuk melindungi kaum muslimin dari konsumsi produk yang tidak jelas kehalalannya dengan penetapan Fatwa Halal oleh Komisi Fatwa (KF) MUI.

“Ketiga, shodiqul hukumah yaitu mitra pemerintah yang turut memandu atau mengarahkan pemerintah berkenaan dengan aspek-aspek sosial keagamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelas Syaifullah.

Terkait administrasi, Sekretaris DPW LDII Provinsi Papua Ahmad Syaifudin menjelaskan tentang tata cara penulisan surat-menyurat dan menjelaskan bahwa organisasi LDII telah terdaftar di Kemenkumham, “Sehingga kegiatan-kegiatan organisasi LDII tidak diwajibkan menggunakan Surat Keterangan Terdaftar (SKT),” katanya.

Dalam konsolidasi kali ini DPD LDII Kabupaten Jayapura diikuti oleh dewan penasihat, pengurus harian, dan pengurus bagian bertempat di Studio Mini DPD LDII Kabupaten Jayapura. (*dew)

Laksanakan Amanat Presiden, LDII Helat Vaksinasi Massal

Jakarta (14/6). Presiden Joko Widodo mengamanatkan kepada DPP LDII untuk menyukseskan program vaksin nasional. Salah satunya, dengan mengajak masyarakat melakukan vaksin. Hal tersebut disambut Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso dengan menginisiasi pelaksanaan vaksinasi masal. Acara itu terlaksana berkat kerja sama antara DPP LDII, Dinas Kesehatan Provinisi DKI Jakarta, dan Ponpes Minhajurrosyiddin.

Ketua Umum DPP LDII, Ir. KH. Chriswanto Santoso, M.Sc sedang mengikuti program vaksin masal

“Amanat tersebut kami terima pada 5 Maret 2021, saat audiensi menjelang Munas IX LDII di Istana Bogor,” papar KH Chriswanto Santoso. Vaksinasi masal yang dilaksanakan di Padepokan Persinas ASAD, Pondok Gede, Jakarta Timur ini menargetkan 2.500 peserta. Agar tidak berkerumun, peserta vaksinasi masal dibatasi 500 orang setiap hari selama lima hari.

Dalam pantauan KH Chriswanto Santoso, alur vaksinasi masal jelas dan mempermudah peserta. Beberapa minggu sebelum vaksin, peserta sudah mendaftar lewat link yang disediakan panitia, “Menjelang hari vaksin, peserta mendapat pesan singkat jadwal giliran vaksin. Ini yang membuat vaksinasi masal tidak menimbulkan kerumunan,” ujarnya.

Sesampai di lokasi, peserta cukup membawa KTP untuk mendaftar ulang. Sebelum divaksin, peserta dilakukan screening terkait kondisi kesehatan dan penyakit penyerta oleh dokter, yang bertugas di lokasi, “Bahkan dokter yang bertugas meminta saya menelpon dokter pribadi di Surabaya untuk mengecek kondisi medis. Alhamdulillah dokter pribadi saya mengizinkan,” ujar Chriswanto Santoso.

Setelah persyaratan terpenuhi, peserta vaksin pun disuntik vaksin. Usai divaksin, mereka diminta dokter yang bertugas untuk menunggu di pos observasi selama 20 menit. Setelah 20 menit berlalu tidak ada gejala yang menyertai pascavaksin, peserta diperbolehkan pulang.

Menurut Chriswanto Santoso, DPP LDII mencari waktu yang tepat untuk mengadakan vaksinasi massal. Akhirnya, disepakati 14-17 Juni 2021. Ia mendorong semangat ormas-ormas lainnya, untuk melaksanakan vaksinasi massal untuk warga dan masyarakat pada umumnya. Menurutnya, Presiden Jokowi menargetkan 1 juta dosis vaksin setiap hari, “Ini perlu dukungan semua pihak untuk menciptakan kekebalan komunitas,” imbuhnya.

“Kami memulai vaksinasi untuk menggerakkan kalangan masyarakat agar mau divaksin, sehingga krisis kesehatan ini segera berakhir. terkait kontroversi yang ada, vaksinasi itu tetap lebih baik dari pada tidak,” ujarnya.

Chriswanto Santoso berharap agar masyarakat tidak takut divaksin. Menurutnya, vaksin ini tidak ada masalah karena sebetulnya segala sesuatunya sudah terukur. Seluruh dunia melakukan hal yang sama untuk mencapai herd immunity global alias kekebalan komunitas global.

“Semoga ini dapat menjadi pemicu untuk melaksanakan vaksinasi berikutnya dan jangan takut divaksin. Selain kondisi kita harus fit, di sini juga dilakukan observasi untuk melihat apakah kita layak mendapatkan vaksin atau tidak. Itu saya kira, ayo semangat kita vaksinasi,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Timur dr. Indra Setiawan dan Satgas Covid-19 Jakarta Timur drg. Indira Febrianti turut mengapresiasi langkah yang dilakukan LDII. Dokter Indra Setiawan yang meninjau titik vaksin yang terletak di kelurahan Lubang Buaya itu, mengatakan Padepokan Persinas ASAD di lingkungan Ponpes Minhajurrosyidin tersebut, bisa menjadi titik pelaksanaan vaksin berikutnya di Jakarta Timur.

“Alhamdulillah pada pagi hari ini saya ke Ponpes Minhajurrosyiddin terkait vaksinasi dari teman-teman LDII. Saya sangat memberikan apresiasi yang luar biasa dengan tempat seperti ini, pengunjungnya sangat antusias, dan jumlah yang mau divaksin cukup besar,” ujarnya.

Sementara drg. Indira Febriyanti sangat senang karena LDII dapat membantu pemerintah menuju herd imunity atau kekebalan kelompok. Sesuai dengan harapan pemerintah yang menargetkan 1 juta dosis vaksin per hari.

“Saya terus terang sangat senang dan bahagia karena LDII bisa ikut dalam pelaksanaan vaksinasi ini. Kita juga mendapatkan dukungan penuh dari LDII. LDII dapat memberikan contoh kepada masyarakat mengenai vaksin ini. Jadi harapan saya, seluruh masyarakat bisa ikut dalam pelaksanaan vaksinasi dan dapat meraih herd immunity secara cepat,” ujarnya.

Tetap Jaga Prokes Meski Sudah Divaksin

Apakah vaksin bisa membuat kita kebal dari covid-19? Drg. Indira Febriyanti kembali memberi penjelasan. Vaksin ini sangat penting dikarenakan untuk menuju kekebalan kelompok. Hasil akhirnya dapat dapat menurunkan angka kematian dan juga menurunkan gejala yang berat bagi penderita Covid-19.

“Kalau sudah vaksin bukan berarti tidak akan kena Covid-19. Namun tetap akan kena tetapi gejalanya ringan bahkan tidak bergejala sama sekali. Karena antibodi kita sudah mengenal si virus ini setelah kita divaksin,” jelasnya.

Menurut drg. Indira Febriyanti, vaksin ini sangatlah aman. Sampai saat ini tidak ada masyarakat setelah mendapatkan vaksin mengalami gejala berat atau kematian. “Yang ada setelah divaksin mengalami gejala ringan mungkin demam atau sakit kepala atau diare. Dan itu hanya mengalami gejala yang ringan sekali dan tidak berlangsung lama, hanya satu atau dua hari setelah itu hilang,” tambahnya.

Namun, ia menganjurkan untuk para komorbid agar konsultasi dengan dokter spesialis. Secara global, vaksin untuk para komorbit ini sangat dianjurkan karena para komorbitlah yang memiliki resiko besar. “Namun untuk komorbit yang tidak mendapatkan anjuran dari dokter pribadinya mungkin sedang dalam masa peradangan atau infeksi makanya tidak dianjurkan,” ujarnya.

Sementara itu Ketua DPD LDII Kabupaten Jayapura, Imam Subekti menambahkan, “mari kita sukseskan gebyar vaksin nasional sebagai salah satu bentuk ikhtiar kita untuk menciptakan herd immunity sehingga kesehatan nasional meningkatkan dan ekonomi semakin maju”. (dew)

Tausiah Kebangsaan MUI dan LDII, Bahas Tiga Rukun Bernegara

Wakil Ketua Umum DP MUI, Marsudi Syuhud dalam Tausiah Kebangsaan LDII

Kediri (13/6). Pondok Pesantren Wali Barokah yang menjadi mitra strategis LDII dalam melahirkan juru dakwah, menghelat tausiyah kebangsaan. Sebagai narasumber utama Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Dr KH Marsudi Syuhud, MA. Acara tersebut diikuti DPW dan DPD LDII di seluruh Indonesia secara daring.

Acara tausiyah kebangsaan itu diikuti lebih dari 5.000 orang yang terdiri para ulama dan para pengurus LDII, serta perwakilan dari MUI di provinsi dan kabupaten/kota, “Tausiyah kebangsaan ini penting dalam kondisi keumatan yang menghadapi masalah yang kompleks dan multidimensi, kami membutuhkan pencerahan,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Wali Barokah, Drs KH Soenarto, M.Si.

Sebagai pondok pesantren yang diamanati DPP LDII, untu menghasilkan juru dakwah menurut KH Soenarto, posisi Pondok Pesantren Wali Barokah sangat strategis, “Maka para juru dakwah itu, perlu dibekali ilmu agama yang kaffah, dan wawasan kebangsaan yang kuat dan mantap,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, KH Marsudi Syuhud didampingi Wakil Sekjen DP MUI Arif Fahrudin M.Ag, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan DP MUI Prof Dr H Firdaus Syam, M.A, Sekretaris Dr Ali Abdillah.

Sementara itu dalam sambutannya, Ketua Umum DPP LDII Ir KH Chriswanto Santoso, M.Sc mengemukakan pentingnya menjalin silaturahim. Dengan silaturahim itu, para tokoh agama bisa turut memikirkan bangsa dan negara sebagai kontribusi untuk menjadikan Indonesia negeri yang makmur penuh rahmat dari Allah.

“Tausiyah ini jadi penting untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, agar ukhuwah wathoniyah juga kuat, dan ketiga ukhuwah basariyah terjaga. Para pendiri bangsa mendirikan negeri ini atas perbedaan yang tak bisa dihindari, dan para ulama menjadi motor penggerak perjuangan. Dari perbedaan itu, justru kita menyatu,” pungkas KH Chriswanto Santoso.

Menurut Chrsiwanto Santoso, di tengah era digital ini, internet mempermudah lalu-lalang informasi. Namun teknologi itu, juga mempermudah fitnah menyebar, “Digitalisasi memungkinkan menulis atau mengubah suara menjadi saya, padahal pesan-pesannya bukan dari saya. Ini bisa mendatangkan fitnah dan perpecahan umat,” ujar Chriswanto Santoso. Ia mengingatkan, para pendiri membentuk LDII bertjuan untuk berkontribusi kepada umat, bangsa, dan negara secara positif.

“Kami memiliki delapan program kerja yang diselaraskan dengan program nasional, agar menjadi solusi. LDII harus mendukung bangsa dan negara dan memberi solusi terutama masalah kebangsaan. Bila Indonesia goyang, LDII turut ikut sempoyongan,” ujar KH Chriswanto Santoso.

Dalam tausiyah kebangsaan, Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, menekankan pentingnya keterhubungan antar manusia, “Sehingga antarmanusia terhubung rohani, pikiran, amaliyah dan berbagai hal lainnya, ketika semuanya nyambung, keberkahan itu hadir,” ujarnya. Keterhubungan itu, menurutnya sudah dicontohkan Rasulullah SAW dalam membangun negara kecil bernama Madinah, yang tertuang dalam Piagam Madinah.

Dalam pandangannya, Rasulullah mendirikan negeri Madinah sebagai negara untuk menyambung, mengikat masyarakat di dalamnya untuk hidup bersama meskipun tidak satu agama, “Islamnya saja ada golongan Muhajirin ada Ansor, ada Yahudi, Nasrani, dan Majusi yang bukan agama samawi. Dari beragam agama itu diikat untuk menyatukan perbedaan,” imbuhnya.

Sebagai penyatu perbedaan, Rasulullah memiliki kemampuan yang mumpuni sebagai hakim, jenderal ketika perang, hingga mengurus ketertiban, “Bahkan Rasulullah sampai mengurusi akhlak,” ujarnya.

Ketum DPP LDII Ir KH Chriswanto Santoso MSc (kiri) memberikan kenang-kenangan kepada Waketum MUI Pusat, Dr KH Marsudi Syuhud MA

Saat Turki Utsmani runtuh, negara-negara memisahkan diri dan para tokohnya bermusyawarah dan berijtihad mengenai negara mereka, “Pada 1936 Nahdlatul Ulama dalam Muktamar 1936 sudah membahas bentuk negara Indonesia. Berangkat dari musyawarah itulah lahirlah dasar negara,” ujarnya. Kemudian, Pancasila ditetapkan menjadi dasar negara atas musyawarah.

“Jadi bila ada yang bertanya pilih Alquran atau Pancasila, itu sama halnya menanyakan bumbu pecel tumpang atau pecel tumpang, bakso atau buletan bakso,” ujarnya. Artinya, Pancasila itu terdapat dalam Alquran. Maka tugas pemerintah adalah menyambungkan hukum yang tetap berupa Alquran dan Sunnah ke dalam aturan-aturan, demi kemaslahatan umat.

“Alquran dan Sunnah itu hukum yang tetap, sementara masalah terus tumbuh dan berkembang, maka pemerintah tinggal membuat aturan untuk kemaslahatan. Lampu lalu lintas tidak ada dalam Alquran dan Alhadits, namun karena maslahat untuk umat manusia, maka itu sudah memenuhi aturan yang syariah,” ujarnya.

Ia memisalkan lagi, mengenai wabah Covid-19. “Rasulullah menyuruh kita waspada dan lari sebagaimana waspada terhadap singa. Maka aturan turunannya ya lockdown dan bansos. Negeri ini tentu ada kekurangannya, maka kekurangannya yang diperbaiki bukan membubarkan negerinya,” ujarnya.

Ia menekankan, konteks hubungan negara dan agama terdapat dalam tiga hal. Pertama, negara harus mampu membuat hubungan antara hukum tetap (Alquran dan Alhadist) dengan produk undang-undang yang dihasilkan negara, “Aturan yang dibuat negara harus bermanfaat dan mengurangi kemaksiatan atau kekacauan,” ujarnya.

Kedua, bernegara itu harus bisa menyatukan maslahat umum dan individu, “Contohnya pajak, hasil pajak bermanfaat untuk kepentingan umum. Namun adakalanya masyarakat dalam kondisi tak mampu bayar pajak, maka aturannya diubah bisa afirmasi atau tax holiday,” pungkasnya.

Dan yang ketiga, menyatukan atau merukunkan kepentingan materi dan rohani, “Saat negara memperbolehkan salat, puasa, haji, dan ibadah-ibadah lainnya bahkan mengurusinya maka sudah syariah. Meskipun bakal ada tabrakan antara syariah dan maksiat, misalnya ada korupsi bantuan sosial, maka korupsinya dibasmi bukan bantuan sosialnya yang dihilangkan,” ujarnya.

Ia mengingatkan, negara yang didasari musyawarah, maka hukumnya wahib menjaga kesepakatan atau produk musyarawah tersebut. Apa yang kurang dari negeri ini, ia berpesan untuk diperbaiki bersama, “Bukan negaranya yang dirobohkan,” pungkasnya. Ia juga meminta semua bersyukur atas rahmat Allah kepada Indonesia, yang aman dan tenteram.

“Lebih baik menjadi orang miskin di negeri yang kuat dan kaya, ketimbang menjadi orang kaya di negeri yang barbar, penuh ancaman, dan ketidakpastian,” ujarnya.

Dalam tausyah ini pengurus DPD LDII Kabupaten Jayapura mengikuti secara daring di Studio Mini DPD LDII Kabupaten Jayapura yang diikuti sebanyak 18 peserta. (dew)